Saturday, June 11, 2011

Review: Akira (1988)

Plot: Jepang, tahun 2019, 31 tahun setelah ledakan nuklir di Tokyo yang menghantarkan dunia kepada 'Perang'nya yang ketiga. Dalam sebuah alternate reality ini, tepatnya di kota Neo-Tokyo, teroris dan kekerasan antar geng merajalela. Seorang remaja bernama Kaneda (Mitsuo Iwata) dan teman-teman geng motornya di suatu malam terlibat sebuah perseteruan dengan geng motor lainnya. Di tengah kejar-kejaran tersebut, Tetsuo (Nozomu Sasaki), teman baik Kaneda secara tidak sengaja berpapasan dengan seorang anak kecil dengan fisik yang sedikit ganjil, membuatnya terjatuh dari motornya. Apa yang kemudian terjadi adalah pasukan pemerintah tiba-tiba menculik Tetsuo dan melakukan eksperimen pada dirinya. Eksprerimen tersebut berhasil mengeluarkan kekuatan luar biasa yang terpendam dalam diri Tetsuo. Kaneda, dibantu dengan sekelompok anti-government berusaha untuk menghentikan Tetsuo, yang kini sudah hilang kendali, sebelum ia membangkitkan kembali sosok bernama 'Akira', yang disebut-sebut sebagai penyebab ledakan nuklir 31 tahun yang lalu.

Review: Beberapa minggu belakangan ini, bahkan beberapa bulan dan tahun belakangan, Hollywood sedang dilanda gosip akan adanya remake film animasi Jepang berjudul Akira. Akira sendiri dirilis sudah lebih 20 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1988. Berdasarkan info dari tante wiki, Akira ini adalah salah satu film pionir dan landmark untuk dunia perfilman Jepang, baik animasi maupun live action. Rasa penasaran tentu saja menyelimuti diri gw (bahasa apa ini -_-"), karena selama ini gw hanya mengenal film ini lewat sosok pria Jepang berpakaian serba merah dengan motornya (yang juga merah) yang gw asumsikan sebagai sang titular character. Ternyata oh ternyata bukan. Akira yang juga selama ini gw anggap sebuah film action dengan mengambil latar belakang geng motor pun ternyata kurang tepat. Akira bisa gw sebut sebagai sebuah film action slash thriller slash sci-fi yang kebetulan juga adalah sebuah adaptasi manga Jepang yang ditulis sendiri oleh sang sutradara, Katsuhiro Otomo. Dan, ya, setelah akhirnya selesai menonton, gw tau mengapa Hollywood sangat ingin me-remake film ini. Well, after all, Akira juga menjadi salah satu impact terbesar yang memperkenalkan anime ke dunia, khususnya Amerika.

Pertama-tama, ternyata Akira yang dimaksud adalah sebuah sosok yang cukup misterius di awal film dan selalu disebut-sebut sebagai awal malapetaka ledakan nuklir yang terjadi di Tokyo. Lama-lama diketahui lah bahwa Akira itu adalah seorang anak lelaki dengan kekuatan luar biasa, yang oleh pemerintah diteliti dan dimanfaatkan hingga terjadinya kehilangan kontrol akan kekuatan God-like nya itu. Dari situ lah salah satu isu yang ingin diangkat oleh film ini, tentang obsesi manusia untuk menjadi Tuhan. Diceritakan bahwa kita semua sebenarnya memiliki kekuatan luar biasa tersebut, tetapi terpendam di dalam diri kita. Kekuatan tersebut juga tidak bisa dikontrol dan hanya terpakai sesuai dengan kodratnya. Apa yang terjadi ketika kita berlagak paling pintar dan berusaha untuk membuat 'Tuhan' sendiri. Tidak ingin terkesan preachy, tapi memang celaka lah yang akan kita dapet. Sekilas film ini juga mengingatkan dengan sebuah hmmm entah mungkin disebut 'prophecy' dalam agama gw dan mungkin agama lainnya (inti nya sama tapi beda versinya) tentang kebangkitan Dajjal, the evil of all evils. Konon katanya pun sosok nya tersebut bisa saja bersembunyi dibalik sosok lain.

Konflik antara Kaneda dan Tetsuo sendiri sebenarnya menjadi isu yang cukup menarik untuk diangkat. Dua orang sahabat baik dari kecil ini memiliki hubungan yang cukup kompleks. Kalau bisa dibilang Kaneda itu diantara mereka berdua adalah sosok alpha-male. Kaneda adalah sosok seorang leader, dimana ia, naturally atau tidak, disengaja atau tidak, menganggap dirinya adalah sosok pahlawan yang harus selalu menolong Tetsuo. Hal tersebut membuat Tetsuo seakan selalu dibayang-bayangi oleh Kaneda. Ia selalu menganggap dan dianggap oleh orang-orang di sekitarnya lebih lemah dan lebih inferior dibanding Kaneda yang juga ketua geng mereka. Menyinggung paragraf sebelum ini, tentang ambisi manusia terhadap power, yang selama ini diinginkan oleh Tetsuo adalah untuk memiliki kekuatan, rasa percaya diri dan gak dianggap remeh sama orang lain layaknya Kaneda. Ketika ia akhirnya mendapatkannya, Tetsuo yang udah dikalahkan oleh nafsunya tentu saja memanfaatkannya dengan semena-mena, yang pada akhirnya jadi senjata makan tuan juga.

Penggambaran sebuah alternate future dalam film ini terkesan catastrophically real. Di beberapa bagian mengingatkan gw dengan film doomsday lainnya seperti Children of Men-nya Alfonso Cuaron. Neo-Tokyo yang memang terlihat seperti kota rusak dengan berbagai serangan teroris dari sana-sini, hectic dimana-mana yang diakibatkan juga sama aktivitas geng-geng anarkis, ekonomi yang gak stabil, aksi sebuah sekte yang mengajak untuk bertobat. Hmmm apakah lo teringat akan sebuah kota bernama Jakarta? Back to the film. Akira memang menjadi sebuah batu loncatan dalam dunia animasi. Di tahun tersebut, sebuah film live action sepertinya masih sulit memberikan aksi spektakuler dengan sejumlah special effect. Akira yang notabene film kartun, memiliki privilege untuk melakukan dan menampilkan hal-hal tersebut dengan sangat baik, kalau tidak mau dibilang sempurna. Salah satu film anime termahal yang pernah dibuat, juga dipercantik dengan score nya yang terkesan mirip alunan gamelan. Dan by the way, sayangnya gw menikmati film ini setelah di-dubbing oleh pengisi suara US, jadi gak bisa menilai secara pure tentang pengisi suaranya atau mungkin beberapa dialog.

Overview: Sebagai sebuah film animasi, Akira jelas berpakem untuk konsumsi dewasa. Graphic-nya yang cukup gore dengan tumpahan darah dan explosion dimana-mana dan isu yang sangat jauuuh lebih mature dibanding film-film animasi lainnya (yaeyalaah). Tapi walaupun animasi, tingkat keseruan action dalam film ini ternyata juga sama menegangkannya dengan menonton film live action. Menonton film ini, sepertinya gw banyak melihat pengaruhnya terhadap film-film fantasy sci-fi yang muncul setelahnya. Sering disebut-sebut sebagai cult classic, bahkan ada kritikus yang mengatakan bahwa tanpa adanya Akira, tak akan ada The Matrix. Kalo gw pribadi mengasumsikan bahwa inti dari film ini adalah tentang obsesi manusia terhadap 'kekuatan'. Apapun itu, sejujurnya gw sangat sangat ingin melihat Hollywood membuat film live-actionnya dengan efek-efek sophisticated khas Paman Sam. Terserah lah siapa pun yang akhirnya memerankan tokoh-tokohnya, mau artis Jepang ataupun James Franco, asal cerita nya tidak diubah seenak udel. Kalau nonton kartunnya aja udah seseru ini, apalagi live-action nya? Logikanya sih begitu........

(****)
Akira (1988) | Animation, Action, Fantasy, Mystery, Sci-Fi | Rated R for graphic violence and brief nudity | Original voice cast: Mitsuo Iwata, Nozomu Sasaki, Mami Koyama, Taro Ishida, Mizuho Suzuki, tessho Genda, Kazuhiro Kamifuji, Tatsuhiro Nakamura, Fukue Ito | Written by: Katsuhiro Otomo (based on his manga) | Directed by: Katsuhiro Otomo

10 comments:

  1. nonton dimana neeh?

    ReplyDelete
  2. Ini film anime bertema cyber-punk favoritku, lebih ku suka daripada seri Ghost in the Cell yang juga bagus.

    ReplyDelete
  3. @anonymous; download :p

    @andoRyu: sayangnya saya blm nntn Ghost in the Cell hehe nanti kalo ada kesempatan mungkin bakal dicoba :)

    ReplyDelete
  4. Suka pendalaman reviewnya. Kenapa ya nggak ada studio US kayak Pixar atau Dreamworks yang bikin animasi macam begini (mature buat konsumsi adult)?

    Bener banget kalo diremake Hollywood pasti visualnya lebih mantap. Tapi takutnya itu, ceritanya dikocok-kocok.

    ReplyDelete
  5. @Mikhael: terima kasih kk :) iya nih, target mereka kan soalnya lebih family-oriented dan tentunya duit haha di Hwood kartun dewasa kadang gak laku soalnya.

    iya, antara excited dan concern jg kalo di-remake. saya yakin visualnya makin mantep, tapi ceritanya dipertanyakan hahaha

    ReplyDelete
  6. Wah, hollywood emg pernah gw denger mau remake komik2/kartun2 asia tuh. Contoh nya liat aja Priest yg bulan lalu rilis, dan alhasil jadi beda sensenya. Dulu gw denger Death Note mau diremake trus rumornya Zac Efron yg meranin Kira? ckckckkc (ada yg tau death note?)

    ReplyDelete
  7. Death Note gw tau tapi gak ngikutin hahaha contoh paling gila? Dragonball!

    ReplyDelete
  8. coba komiknya juga gan, animenya mah cuma sebagian kecil dari cerita di manganya....tapi tetep aja animenya itu jadi pioneer adegan2 action saat live-action belum ada yg bisa buat adegan seperti itu, bahkan sesam anime pun belum ada yang bisa melakukannya sekreatif dan sehalus gerakan di anime Akira...cheers

    ReplyDelete
  9. @alyano: kalo sempet nanti saya coba deh manga nya.. pernah denger jg sih salah satu kritikan buat Akira itu terlalu banyak yg pengen disampaikan dalam durasi film yang 'hanya' 2 jam.

    karena saya blm punya banyak pengalaman dengan anime2 sejenis jadi saya gak bisa ngebandingin hehe :)

    ReplyDelete
  10. barusan nontn, baru smpt ditntn skrg ini pdhl dari sma ane udah tau betapa hebatnya film akira. ternyata dugaan ane salah, akira bukan nama sang tokoh, tp sbuah 'kekuatan', hub. antara kaneda dan tetsuo benar2 hebat, salut buat sang pembuat. awalnya tetsuo spt orang lemah, tp dialaha the next akira yg membahayakan.. lebih bagus dari GITS neh.. temanya benar2 .OMG, sangat2 mature.. yg bilang anime itu buat anak, parah.

    ReplyDelete