Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Friday, June 7, 2013

REVIEW: The Act of Killing (2012)

Memori saya memang agak samar-samar, tetapi saya agak mengingat dulu duduk manis di depan TV menyaksikan film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer. Umur saya 6 tahun ketika reformasi meledak, yang setelah kerusuhan besar-besaran berhasil menurunkan presiden Soeharto setelah 30 tahun lebih memimpin Indonesia. Salah satu 'signature' zaman Orde Baru memang adalah kewajiban untuk semua stasiun TV memutar film tersebut setiap tahunnya, untuk memperingati salah satu peristiwa berserajah (dan berdarah) tersebut, serta menjadi propaganda untuk mendoktrin masyarakat bahwa PKI dan komunis adalah dalang dari tragedi tersebut sekaligus musuh negara yang kejam dan berdarah dingin.

Friday, May 3, 2013

Review: What They Don't Talk About When They Talk About Love (2013)

Plot: Diana memiliki kondisi dimana dirinya hanya bisa melihat sekelilingnya dengan jarak dekat. Hal tersebut sebenarnya lebih baik dari Fitri, yang benar-benar tidak bisa melihat. Mereka adalah teman sekelas di sebuah sekolah luar biasa untuk anak-anak tuna netra. Diana mulai merasa tertarik dengan teman sekelasnya, Andhika. Sedangkan Fitri tiap malam berinteraksi dengan seorang 'hantu dokter' yang ternyata adalah anak penjaga warung, Edo.

Saturday, December 22, 2012

Review: 5 cm. (2012)

Plot: Setelah tidak pernah terpisahkan selama 10 tahun, 5 orang sahabat, Genta (Fedi Nuril), Arial (Denny Sumargo), Zafran (Herjunot Ali), Riani (Raline Shah) dan Ian (Igor Saykoji) memutuskan untuk break sementara dan tidak bertemu selama 3 bulan. Setelah 3 bulan tidak bertemu, Genta telah mempersiapkan sebuah perjalanan ketika akhirnya mereka bertemu kembali; mendaki puncak Semeru, puncak tertinggi pulau Jawa.

Wednesday, August 15, 2012

Review: Kita versus Korupsi (2012)

Plot: Sebuah omnibus yang berisi 4 cerita yang berbeda waktu dan tempat, tetapi memiliki satu kesamaan: korupsi. Ada seorang kepala desa yang menjual desanya kepada seorang konglomerat untuk dijadikan real estate, sepasang kekasih yang ingin menikah diam-diam, sebuah keluarga sederhana yang anaknya sedang sakit keras serta sekelompok siswi yang bercengkrama tentang apa yang terjadi di sekolah mereka.

Friday, July 13, 2012

Review: Lewat Djam Malam (1954)

Plot: Seorang pria yang dulunya adalah pejuang kemerdekaan Indonesia, Iskandar (A.N. Alcaff), memutuskan untuk kembali ke 'dunia nyata'; mencoba bekerja untuk menghidupi tunangannya, Norma (Netty Herawati), kelak. Tetapi ternyata tidak mudah bagi Iskandar untuk menyesuaikan hidupnya selepas perang melawan penjajah. Belum lagi kenangan pahit masa lalu bersama rekan-rekan seperjuangannya; Gafar, Gunawan serta Puja, yang terus menghantuinya.

Sunday, April 29, 2012

Review: Modus Anomali (2012)


Plot: Seorang pria (Rio Dewanto) tiba-tiba terbangun dalam keadaan terkubur di dalam tanah di tengah hutan asing. Ia hanya memiliki sebuah handphone tanpa contacts apapun di dalamnya. Ia tersadar bahwa ia tiba-tiba tidak mengetahui siapa nama nya dan bagaimana ia bisa berada di tempat tersebut. Setelah menemukan sebuah rumah misterius serta video dengan isi yang cukup disturbing, ia akhirnya menyadari dan harus menyelamatkan diri dan orang-orang terdekatnya dari sosok-sosok misterius yang mencoba untuk menyerangnya. 

Sunday, April 1, 2012

Review: The Raid (2012)

Plot: Sejumlah tim SWAT Indonesia diberikan tugas untuk menyerbu sebuah gedung yang ditempati oleh seorang bos kriminal (Ray Sahetapy) dan antek-anteknya. Dengan sebagian dari mereka yang belum memiliki pengalaman yang cukup serta para penghuni gedung yang berusaha untuk mengusir tamu tak diundang tersebut, aksi penggerebekan itu berubah menjadi aksi penyelamatan diri.

Wednesday, August 17, 2011

Quick Reviews pt.4: I'm feeling Indonesia!

17 Agustus 2011. Hari ini resmi, negara Indonesia berumur 66 tahun. Memang, di umur yang sudah tidak muda lagi ini, Indonesia masih saja memiliki masalah-masalah yang sepertinya sangat sulit untuk diselesaikan. Saking bobroknya, terkadang miris melihat negara yang katanya kaya ini ternyata masih terpuruk di berbagai sisi. Tetapi dengan semangat beberapa orang yang masih percaya bahwa Indonesia bisa maju, gw bisa sedikit optimis. Nah, merujuk ke blog ini, banyak yang sering mengatakan bahwa kok jarang banget ya gw nonton/review film Indonesia. Jawabannya sih simple; terlalu sering dikecewakan, jadi agak males untuk mencoba lagi. Tetapi setelah menonton 3 film dibawah ini, gw jadi punya secercah harapan lebih terhadap film-film di tanah air. Ada film dari sutradara pionir Indonesia yang tak lelah memberikan pembelajaran pada film-filmnya, ada juga yang menggebrak dengan genre yang berbeda dan satu lagi film yang membuat gw sangat yakin bahwa film Indonesia akan kembali bersinar di masa yang akan datang. Sebelum menyimak reviewnya, cuman pengen ngucapin; dirgahayu Indonesia yang ke-66, MERDEKA!!

Tuesday, January 19, 2010

Indonesia's got recognizition by IMP!

Salah satu website yang sering gw buka setiap harinya adalah Internet Movie Poster Awards. Di situs ini, kita bisa nemuin poster film2 paling baru. Gw selalu ngecek situs ini kalau mau tau poster2 film terbaru. Tiap tahunnya, situs ini bikin semacam award untuk poster2 film yang keluar setiap taunnya. Taun ini pemenangnya bisa dilihat disini. Tapi bukan itu yang pengen gw bagi, tapi ada satu kategori yaitu International Highlights yaitu kategori poster2 film internasional yang paling memorable bagi mereka. And yes, Indonesia caught their attention with Pintu Terlarang & Perempuan Berkalung Sorban's posters. Gw gak tau apakah situs ini semacam situs besar disana, tapi tetep aja ada kebanggan tersendiri melihat poster film Indonesia di feature disitu. Keep up the good work guys!

Friday, April 3, 2009

"Gitar ini kayak nafas gw ..... gw juga butuh nafas, Van!"

Gw mungkin boleh berbangga hati, gw adalah satu dari sekian banyak penduduk Indonesia yang 'menangkap' film ini di bioskop. Film ini pun hanya bertahan beberapa hari di 21 Pondok Indah (seingat gw). Padahal, menurut gw, in my humble opinion, perkiraan gw (hahaha apa coba banyak banget), film ini (harusnya) menjadi salah satu film terbaik yang pernah dibuat oleh Indonesia.

Apakah gw salah? Mungkin. Pendapat gw mungkin beda2 sama pendapat2 para kri tikus2 (itu emang gw pisahin katanya hahaha) profesional. Memang jika dibandingkan dengan film2 macam Berbagi Suami, Nagabonar (Jadi) 2, Denias: Senandung Di Atas Awan (maaf ya kalo yg ini saya blom nonton), film2 nya Garin Nugroho, film ini jauh dibawah kualitasnya. Tapi apa yang membuat saya berani memberikan statement diatas?

Dunia Mereka (2007) adalah film dengan cerita adaptasi novel Monty Tiwa (yang juga menulis skenario nya) tentang Filly (Adinia Wirasti), penyuka musik blues, yang sudah menjadi piatu, karena waktu ia berumur 10 tahun, ibu nya yang pramugari tewas dalam kecelakaan pesawat. Filly menganggap bahwa kematian ibu nya adalah kesalahannya, karena Filly sempat ngambek agar ibu nya pulang hari itu juga. Karena itulah Filly menjadi sosok yang pendiam.

Cerita pun berlanjut dengan bagaimana Filly diterima oleh band yang diketuai oleh Ivan (Christian Sugiono), band yang beraliran pop blues. Filly diterima band itu pun karena Filly memberi influence blues yang sangat kental pada musiknya. Seiring berjalannya waktu, Ivan, Filly dan 2 anggota lainnya, Ari & Barbuk (sayangnya di credit title ga ada nama tokoh2nya jadi gw ga tau namanya), menjadi akrab. Terutama Ivan & Filly. Hal ini gak disukai sama pacar Filly, Rio (Oka Antara) yang membuat Rio membenci sosok Ivan, dan juga sebaliknya.

Masalah pun datang saat band yang diberi nama Ivan & Capung Biru itu akhirnya diterima oleh produser musik dan ditawari rekaman. But no victory without sacrifice. Band mereka bisa diterima rekaman dengan satu syarat: mengurangi sense of blues sampe pol. Kenapa? Apparently, blues don't sell (check out John Mayer nowadays, idiot!). Padahal Ivan bernah berjanji kepada Filly, selama Filly ada di bandnya, ia bebas nge blues semaunya.

Kembali ke statement atas. Film ini (harusnya) menjadi salah satu film terbaik yang pernah dibuat oleh Indonesia. Gw sangat tersihir dengan film ini. Walaupun cerita nya tidak terlalu orisinil, menurut gw cara penyampaian cerita nya sangat baik. Kudos buat Lasja F Susatyo, sang sutradara. Dialog yang dipakai juga bener2 nyata. Entah kenapa gw suka eneg denger dialog2 cheesy dan terlalu nyeni yang dipakai di film2 Indonesia, kaku banget. Walaupun penyakit itu ada di beberapa adegan film ini, tapi sebagian besar dialog nya mengalir. Lucu dan menyentuh.

Sinematografi nya adalah alasan no.1 gw suka film ini. Shot-shot yang diambil sangat artistik. Keren banget ngeliat pergerakan kamera yang mulus dan menangkap gambar2 indah. Adegan2 seperti saat ayah Filly ingin merebut dan merusak gitarnya, dan saat mereka ngumpul2, awesome!

Tapi apa bener film ini sesempurna dan se flawless itu? Tidak. Tata musiknya, walaupun pemilihannya sudah bagus dan cukup menarik, tapi di beberapa adegan (cukup banyak sih) lebih kenceng dibanding dialog nya, jadi ga kedengeran. Padahal ada yang penting. Dan score nya juga itu2 aja. Trus juga tata cahaya. Banyak dari adegan di film ini yang gelap banget. Bener2 mubazir deh tuh sinematografi nya. Promosi nya apalagi. Film ini bener2 jadi ga ada yang tau dikarenakan promosi nya yang kurang. Bahkan, VCD yang gw beli pun harus digabung dengan 2 film lain, jadi 3 in 1 gitu.

Apakah mereka kekurangan dana? Sepertinya iya (sotoy). Padahal jika digarap dengan sangat maksimal dan sedetil mungkin, mungkin memakai dana film2 horor kacangan dan komedi seks kampung itu, film ini seperti yang saya bilang, bisa menjadi salah satu film terbaik yang pernah dibuat Indonesia.

Hal lain yang mungkin menarik perhatian adalah ternyata Adinia Wirasti (Karmen di AADC) jago banget main gitarnya! Akting nya juga oke sih, tapi ga terlalu wah. Christian Sugiono bermain mood2an disini. Kadang ancur (kebanyakan sih) tapi kadang lumayan. Pronouncation nya juga kurang 'Indonesia', lidah nya sempet rada ke bule2an gitu. Yang jadi favorit gw tuh Barbuk, sang drummer yang memainkan perannya yang slenge'an dan tukang mabok dengan baik dan cukup alami. Apa memang asli nya gitu ya? Hahaha

In conclusion: film yang hampir sempurna, nanggung. Kalo aja di danai lebih dan diperhatiin lagi masalah teknisnya, dan juga promosi yang lancar, gw yakin film ini bakal memorable sepanjang jaman. Cerita bagus, sinematografi keren, musik oke (bukan tata musiknya, tapi pemilihan musiknya), mungkin bisa diganti sih peran nya C Sugiono nya, biar kerasa lebih idup jiwa anak band nya. Tapi film ini cukup enjoyable dan bisa jadi alternatif film2 Indonesia. Dibanding film2 band seperti Garasi dan D'Bijis sampe Realita Cinta & Rock N Roll pun gw masih suka Dunia Mereka.

Rating: 6.5/10 (padahal bisa 8/10)

Wednesday, March 11, 2009

2 jam yang gak penting


First thing first = this movie is as cheesy as italian cheese <-- what the?

Gw bingung sama pencetus ide ngebuat novel goblok KambingJantan jadi sebuah film. Mau dibawa kemana arah film nya? Secara novel nya tentang catatan harian bung Raditya Dika dalam periode waktu yang loncat2, walaupun banyak yang berhubungan. Gw sih punya banyak harapan kalo film ini bakalan jadi bagus. Karena novel nya best seller (seperti Ayat-Ayat Cinta hahaha) pasti di garap sama crew yang jempolan.

Harapan gw jatoh tiba2 denger review di kaskus.us ttg KambingJantan. Sebenernya harapan gw udah jatoh dari sebelum2nya gara2 liat trailer nya yang sangat amat tidak menjanjikan. Basi, sorry to say. Gak ada konflik di trailer nya jadi males nntn, tapi tetep lah penasaran.

Balik lagi ke masalah review di kaskus, gak sedikit yg bilang kalo film ini totally not recommended. Udah bener2 low expectation bgt tuh. Tapi tetep penasaran. Nah jadi akhirnya gw nntn juga, berhubung di pejaten village, xxi baru, jadi murah cuman 15rb. First impression = JAYUS PARAH

Bukan maksud gw untuk menjelek2an film Indonesia ya cuman emang bener film ini jelek bgt. Ya, film ini gak sejelek film2 horor/komedi/seks kacangan yang sekarang lagi nge trend. Banyak dari film2 Indonesia yg mungkin lebih buruk dari ini. Tapi film2 kacangan itu emang udah ketauan jelek nya kan dari awal. Lah kalo KambingJantan, pasti banyak orang2 punya harapan besar dong. Karena udah ngeliat hasilnya, pastilah rasa kecewa lebih besar daripada nntn film2 kacangan itu.

Perbandingan cerita di novel nya pun banyak yg beda. Film ini cuman menekankan kisah cinta Raditya "kambing" Dika sama pacarnya 'Kebo' yang harus ngejalanin long distance relationship karena Dika harus kuliah di Adelaide.

Apa sih yang salah dari film ini? Akting. Plis, Dik, lo udah cocok kok cuman nulis, ga usah dipaksain akting. Sori bgt nih kalo lo tersinggung, tapi itu dari lubuk hati gw yang paling dalem hahaha Naskah nya juga, sebenernya sih mungkin udah di set sejayus mungkin. Tapi pembawaan Dika yang kaku, ngebuat dialog2 nya jadi hambar. Jadi jayus. Pemeran2 pembantu juga sayangnya gak ngebantu banyak

Trus lagi2 masalah naskah. Dialog nya nih jayus bgt dan ga jelas mau dibawa kemana. Jadi sebenernya kita cuman disuguhin cerita cinta nya dika dan kebo + dika sadar kalo dia salah pilih jurusan. Segitu cuman 2 jam??? Kenapa? Banyak tempelan2 ga penting, bahkan keliatannya cuman film ini isinya tempelan2 ga penting + cinta2an sama salah pilih jurusan. Jadi kayak makan sambel pake nasi. Film ini disingkat jadi 30 menitan juga bisa. Di Adelaide nya pun cuman berapa scene sih? Padalah pesan ttg salah jurusan tuh bagus bgt, cuman disini kesannya jadi tempelan doang.

Gw lagi2 bilang kalo gw bukan movie expert dan gw juga gak bermaksud untuk menghina film Indonesia. Tapi apa mau dikata, itulah yang ada dalam hati gw abis nntn film ini = kecewa. besar. Plis bagi yang mau nntn, pikir2 lagi deh. Gw ga ngelarang lho, cuman ya, pikir2 lagi aja.

Rating: 4.5/10

Wednesday, February 4, 2009

Pintu Terlarang: A Review


Pertama-tama gw cuman pengen bilang bahwa GW BUKAN SEORANG MOVIE EXPERT, i have my very own taste. Gw suka banget sama film American Beauty, tapi on the other hand, bosen sama No Country for Old Men. Gw menilai film dari cara gw berfikir, apakah otak gw cukup pintar buat ngerti arti sebuah film. Bukannya gw sombong, tapi gw udah nntn dan suka sama berpuluh2 film-film 'berat'.

Back to main topic: PINTU TERLARANG. Gw adalah sekian dari banyak orang yg excited terhadap film ini karena film-film kayak gini jarang bgt dibikin oleh sineas Indonesia. Menurut gw film ini bakal jadi angin penyejuk diantara tema2 horor sama drama percintaan ga jelas. Jadi, gw bener2 punya high expectations buat nih film.

Akhirnya gw nntn jg. Menurut gw film ini bener2 visually stunning! Gambar2 nya artistik, cinematography oke. Bener2 diatas standar film2 Indonesia sekarang. Cerita nya apalagi, absurd but really2 cool in its own way. Bener2 thumbs up dah buat 2 poin yg diatas. Tapi entah kenapa film ini punya beberapa dialog2 cheesy dan akting yang..... plain, bahkan terkadang terkesan overacting.

Dialog2 cheesy? Ya.. kenapa sih film2 Indonesia ga bisa bikin dialog kehidupan se normal mungkin? Sebenernya ga tepat juga sih kalo beberapa dialog di film ini cheesy, tapi ungkapan yg bener mungkin terlalu high-class. Baku bgt! Mungkin memang udah di set kayak gitu. Gpp sih sebenernya kalo memang mau pake bahasa baku, cuman harus dibarengin pake akting yg bagus! Kalo kayak gini terkesan kaku bgt mainnya.

Trus masuk ke masalah akting. Kayak yg gw bilang sebelumnya, plain. Gak ada yg memorable. Kecuali pas adegan Christmas Dinner, Fachri Albar bener2 nunjukin kualitas akting yg baik, sedangkan di adegan2 yg lain dia biasa2 aja. Marsha Timothy juga ga terlalu bagus mainnya.. Kayak dibuat2, trus kadang2 overacting lagi, jadi pengen ketawa ngeliatnya..

Sekali lagi, GW BUKAN MOVIE EXPERT. Semua hal yg gw tulis diatas adalah buah pikiran gw sendiri. Oke kalo lo sebut gw punya bad taste dalam film
. Film ini ga begitu jelek... but could have been better. Visualisasi adegan2nya udah top bgt, Indonesian movies' finest in years. Gw gak bilang kalo film ini ga bagus, mungkin karena terlalu tingginya ekspektasi gw aja yang membuat gw kecewa sama film ini, film ini gak terlalu sempurna dan ga se-flawless seperti yang kebanyakan orang bilang.

Semoga ke depannya film2 Indonesia punya visualisasi yg baik dan juga kualitas dialog + akting yg memorable. Kapan nih kita punya film2 setingkat The Godfather atau Casablanca? Smoga sebentar lagi...