Sunday, August 11, 2013

REVIEW: Danny Boyle's Complex but Satisfying "Trance" Blurring the Lines Between Reality and Fantasy

Danny Boyle mungkin adalah salah satu sutradara paling eklektik di generasinya. Berbagai genre film sudah banyak ia dicicipi. Dari drama ke horror. Dari sci-fi ke thriller. Dari big budget, ke low budget. Setelah sukses dengan film-film nominator Oscar-nya, Slumdog Millionaire (2009) dan 127 Hours (2010), Boyle kembali ke kampung halamannya di Inggris untuk membuat Trance, sebuah film thriller misteri yang berkutat dengan pencurian lukisan mahal dan praktek hipnosis. Sounds interesting, eh?

First of all, saya rasa Trance adalah salah satu contoh film dimana semakin kita kurang mengetahui plot-nya, semakin akan kita menikmati filmnya. But I have prepared you a short one. Seorang kurator museum bernama Simon Newton (dimainkan oleh James McAvoy) mendapatkan dirinya terperangkap dalam usaha perampokan lukisan yang akan dilelang. Lewat konfrontasinya dengan sang bos komplotan pencurian tersebut, Franck (Vincent Cassel), Simon harus mengalami luka di kepala dan menderita amnesia. Unfortunately, hanya Simon lah yang tahu dimana letak lukisan bernilai jutaan dollar tersebut berada. Dengan bantuan seorang hypnotherapist bernama Elizabeth Lamb (Rosario Dawson) lah, harapan untuk menemukan lukisan yang hilang tersebut bergantung. Dengan bantuan Elizabeth, Simon akan dibawa ke alam bawah sadarnya untuk mencari informasi serta mengingat dimanakah ia meletakkan lukisan tersebut, serta detik-detik sebelum ia kehilangan memorinya. Hypnosis sendiri memang sering dipakai oleh psikiater, untuk terapi atau beberapa kegunaan lainnya.

Terdengar simple memang. Awalnya saya juga merasa bahwa premis amnesia, sub-plot paling populer dalam sinetron-sinetron Indonesia ini, disini agak sedikit zonk. 'Amnesia is bollocks', sebut Franck dalam salah satu adegan. Tetapi duo penulis Joe Ahearne dan John Hodge, yang juga menulis script film televisi dimana film ini (partially) diangkat, melapisinya dengan berbagai sophisticated turns yang membuat Trance menjadi tontonan yang membuat saya tidak secetek yang saya duga sebelumnya. Bermain-main dengan isi pikiran sepertinya memang akan mengingatkan kita dengan film Inception-nya Christopher Nolan. Tetapi saya malah lebih teringat dengan Side Effects milik Steven Soderbergh, bukan dari premis tapi dari alur misterinya yang meliuk-liuk, serta simpanan twist dimana-mana. Dibandingkan dengan film Nolan yang satu itu, Trance akan terlihat lebih 'jinak', tetapi tidak cemen. Lebih sederhana, tapi tidak garing. Trance terasa seperti sebuah film action biasa pada awalnya, dengan tambahan gimmick hypnosis. Tetapi jelas terlihat disini bahwa Boyle sangat playful dalam menyajikan film ini. Saya pun juga cukup kaget bahwa terdapat beberapa slight humor dalam film ini yang mampu membuat saya tersenyum. Dan delivery dari aktor-aktor di dalamnya terasa tidak dibuat-buat.

Dari menit pertama, Trance sudah membuat saya breathless. Tanpa basa-basi, it took us straight to the case. Dan tak berhenti di situ saja. Seiring film berjalan, film ini membawa kita melalui berbagai twist and turns yang berlapis-lapis. Sampai poin dimana saya merasa saya lah yang menjadi pasien hipnosis Elizabeth, hingga sulit membedakan yang manakah yang dunia nyata, yang mana yang hanya ilusi semata. Sulit juga menebak hingga akhir siapa sebenarnya the mastermind dari pencurian lukisan tersebut. Atau mungkin ada hal lain yang tersimpan dari ketiga karakter utama itu, karena seiring film berjalan, rahasia-rahasia yang tersimpan makin keluar ke permukaan. Lihat saja Simon yang terkesan begitu innocent lama kelamaan mulai menunjukkan sisi kelam dalam dirinya. Lalu Elizabeth yang kalem tetiba terasa terlihat membunyikan rahasia besar. Atau the tough guy Franck yang malah kesengsem dengan Elizabeth di tengah film. Semua itu berlangsung hingga gong di penghujung kisah yang memutarbalikkan semua fakta. Even then, Trance masih menyimpan secuil bagian yang ambigu di belakang. Tak hanya tentang pencurian serta dunia ilusi saja, tetapi Trance menyimpan sebuah kisah cinta yang dipenuhi obsesi di dalamnya. Sebuah kejutan menarik karena hal tersebut tertutup rapat hingga hingga penghujung kisah.

Ruang lingkup Trance sepertinya memang disitu-situ saja, bersama orang yang itu-itu saja. Tetapi itu tidak membuat film ini jadi sempit. Karakter-karakter film ini awalnya terlihat one-dimensional, tetapi lama kelamaan akan terlihat pula rahasia di balik tokoh-tokoh tersebut. Ketiga aktor utama telah memberikan performa yang sangat baik. Ada James McAvoy yang dengan boyish charm-nya tetap memberikan sebuah akting yang emosional. Lalu ada Vincent Cassel yang, walaupun masih berkutat dalam karakter-karakter seperti yang telah biasa ia lakukan, tetap memberikan edge tersendiri disini. Props juga untuk Rosario Dawson, yang ternyata menjadi pusat film ini. Keberaniannya untuk menanggalkan pakaian juga diimbangi dengan sisi elegan  yang ditampilkan dalam karakter Elizabeth.  

Dengan alur yang mungkin perlu sedikit penyesuaian, mungkin anda merasa film ini akan cukup sulit untuk dimengerti. Don't have to worry. Karena menurut saya, dengan sajian yang ditata rapi seperti ini, Trance masih berada di dalam ruang lingkup yang bisa dipahami. Yah mungkin akan ada beberapa momen dimana ada big question mark di kepala anda ketika menyaksikan beberapa scene, but it'll be explained later on. Bukan kah itu maksud dari film misteri, anyway? Danny Boyle, meskipun telah menelurkan film dengan berbagai genre, pun selalu setia dengan beberapa macam fingerprint-nya. Lihat saja editing yang dinamis, pergerakan yang tak kalah lincah, musik yang enerjik serta alur cerita yang cepat pun dapat ditemui dalam Trance. Dengan polesan trendy tersebut, serta script yang ditulis dengan baik, Trance bagi saya adalah sebuah film yang berhasil menghadirkan misteri multi-layer yang nicely and neatly wrapped. Menjadikan Trance sebuah tontonan edge-of-your-seat thriller yang akan membuat anda sulit berpaling dari layar. Great one.

Grade:
Trance (2013) | United Kingdom | Crime, Drama, Mystery, Thriller | Rated R for sexual content, graphic nudity, violence, some grisly images, and language | Cast: James McAvoy , Rosario Dawson, Vincent Cassel, Danny Sapani, Wahab Sheikh, Matt Cross

6 comments:

  1. Great review Fariz! I'm still curious about this one, hopefully it's a lot better than Side Effects but I already like the cast here a lot better so there's that. How violent is this one, it looks like it's quite graphic from the trailer.

    ReplyDelete
    Replies
    1. There's a few gory scenes, but not really that explicit (except one, but not that terrible either). There's a very graphic nudity scene though. For me, it's better than Side Effects, hope you'd like it too!

      Delete
  2. Hai Fariz, list blog aku yang judulnya Hawin Widyo dihapus aja trus diganti sama http://catatannonton.blogspot.com/

    Makasih yaa. :D

    ReplyDelete
  3. Hai Fariz, cuma mau bilang blog Vampibots saya nominasikan di Liebster dan Sunshine Award ya http://manusia-unta.blogspot.com/2013/08/liebster-sunshine-award.html

    ReplyDelete
  4. hey, saya nominasi blog anda untuk liebster award cek di sini http://joegievano.wordpress.com/2013/09/01/liebster-award-the-nominees-are/ lanjutin ya

    ReplyDelete