Saturday, October 12, 2013

REVIEW: Alfonso Cuarón's "Gravity" Soars High, Grips You Hard and Won't Let You Go

Waiting this film for so long has to be an understatement. Setelah Alfonso Cuaron memberikan edgy style twist ke installment Harry Potter yang ketiga, karya-karya sutradara asal Meksiko ini selalu saya nantikan kehadirannya. Children of Men (2006) mungkin salah satu film terbaik dari dekade 2000 kemarin, sedangkan Y Tu Mama Tambien (2001) menjadi salah satu film coming-of-age terseksi dan ter-poignant yang pernah saya tonton. Setelah beberapa tahun menghilang dari kursi sutradara untuk mengembangkan cerita untuk film teranyarnya ini, dan setelah setahun ditunda dari jadwal perilisan awal, Gravity akhirnya muncul ke permukaan. But is it worth all the wait?

On paper, Gravity mungkin bukan sebuah film yang memiliki premis yang 'mengundang'. Kita akan menyaksikan seorang astronot melayang-layang sendirian setelah misinya di luar angkasa mendapat musibah. Dengan hanya menampilkan 2 orang dalam set yang 'disitu-situ' saja, sepertinya bukan sebuah teknik promosi intriguing bagi penonton awam yang kurang mengenal nama Alfonso Cuaron. But that's just what the promotion has been hinting us. Film ini dibuka dengan beberapa tidbits yang menjelaskan bagaimana 'life in space is impossible'. Dari situ film ini sudah memberikan suatu efek chilling tentang apa yang akan terjadi. Then, we'll meet Dr Ryan Stone (Sandra Bullock), seorang bio-medical engineer dalam tugas luar angkasanya yang pertama. Ia bergabung dalam tim yang ditugaskan untuk memperbaiki teleskop Hubble. Ryan Stone ditemani oleh seorang astronot veteran bernama Matt Kowalski (George Clooney) dalam, funnily enough, tugas 'dinas' terakhirnya. Tetapi, setelah sebuah misil Rusia menghantam satelit yang mati menghasilkan beberapa puing yang akan menabrak orbit Hubble, operasi tersebut mungkin bukan saja yang terakhir bagi Kowalsky dan Stone, tetapi juga dapat menghabiskan nyawa mereka di atas sana.

The first thing you'll notice from this film is of course its jaw-dropping effect. Beberapa menit awal film ini dihiasi dengan adegan zero gravity (which was like 99% of the film's environment) dengan Bullock dan Clooney melayang bebas di luar angkasa dalam tugasnya. What's so amazing from that? Bahwa beberapa menit tersebut terlihat di shooting layaknya sebuah one long take. Tak berhenti disitu, film ini juga banyak dihiasi oleh beberapa long-takes yang neatly put dan carefully detailed menambahkan aksen believable untuk film ini. Setelah itu, hadirlah beberapa guncangan lewat 'serangan' space debris yang menegangkan hingga atmosfir yang terdapat dalam pesawat luar angkasa. Semua nya benar-benar terasa nyata. Gravity jelas adalah the best use of 3D since last year's Life of Pi. Tata suara dan musiknya pun juga turut membantu memberikan aura convincing. Tidak perlu suara musik yang menggelegar, tetapi dengan melodi yang lembut dan menyayat serta bebera sound effect, nampaknya sudah berhasil memberikan nuansa gripping. Cuaron memang sengaja tidak ingin memberikan musik explosive untuk menjaga ke-authentic-an film ini. Speaking of authenticity, memang ada beberapa hal yang secara ilmiah *katanya sih* masih kurang akurat. Cuaron juga aware dengan hal tersebut. Tetapi for entertainment's sake, rasanya Gravity sudah sangat dekat menampilkan bagaimana kehidupan para astronot di luar angkasa, and how badly terrible it was if something bad occurs.

To think that Cuaron approached Angeline Jolie first for the role of Ryan Stone, mungkin agak sedikit membuat Sandra Bullock merasa menjadi sebuah last option. Bahkan kabarnya Marion Cotillard DAN Natalie Portman juga ditawari lebih dahulu. Tetapi rasanya Bullock dapat tertawa lebar di belakang setelah berhasil memberikan sebuah performa yang sangat apik dan emosional untuk karakter ini. Angelina Jolie mungkin akan menampilkan lebih ke sisi 'badass' untuk tokoh ini, tetapi Bullock sukses juga menyeimbangkan aura 'fighter' dengan vulnerable yang cocok diberikan untuk karakter Ryan Stone. She is hands down one of the best performances this year, by female or male. Perjuangan Sandra Bullock dalam memerankan karakter tersebut pun tidak main-main, ia harus berada dalam sebuah 'cage' dengan zero gravity selama hampir 9-10 jam setiap harinya. Satu-satunya alat untuk menghubungkan ruangan tersebut dengan dunia luar adalah sebuah headphone yang dipakai oleh Bullock. America' Sweetheart yang satu ini memang sempat dikritik setelah mendapatkan Oscar untuk Best Actress lewat film The Blind Side beberapa tahun silam. Tetapi tahun depan ketika ia mendapat nominasi untuk film ini (oh I'm sure she will), no one will ever doubt the nod again. Bullock tidak technically berjuang dalam film ini sendiri, di beberapa bagian ia akan ditemani oleh George Clooney yang begitu coy, calm dan firm sebagai astronot berpengalaman Matt Kowalski. Walaupun tidak begitu banyak porsinya, kehadiran Clooney menjadi sebuah silver lining tersendiri bagi musibah tersebut. Lucunya, karakter Kowalski ini pun ditulis bukan untuk Clooney juga, tetapi Robert Downey, Jr

Dibalik seluruh technical marvel yang luar biasa itu, serta one-woman show yang sangat sangat baik diberikan oleh Sandra Bullock, Gravity tak hanya menjadi sebuah film tanpa substance. Ditulis oleh Alfonso dengan anaknya sendiri,  Jonás Cuarón, film ini bisa dibilang adalah sebuah metafora dari physical and emotional struggle yang sepertinya akan selalu dialami oleh setiap manusia. Ada suatu pesan yang mungkin tersirat dalam film ini yang hendak disampaikan oleh Cuaron. Tentang bagaimana seseorang harus belajar untuk menerima kenyataan, how to let go of things, bagaimana susahnya untuk move on dan pentingnya kita untuk tidak pernah menyerah. Dan semua struggles itu pun menjadi suatu rangkaian 'rebirth' bagi karakter tersebut. Beberapa nods untuk menyinggung rebirth sendiri jelas terlihat dalam beberapa scene. Ya, klise dan agak drama memang, tetapi semua itu dituturkan dengan cara yang sederhana, tidak preachy dan bahkan tetap terasa menusuk. Di luar beberapa adegan yang terasa sangat menegangkan, Gravity juga memberikan adegan emosional yang mampu menyentuh penonton. Seakan perjuangan yang dilakukan oleh Ryan Stone juga menjadi perjuangan kita semua. 

Banyak yang mempermasalahkan film ini memiliki durasi yang terlalu singkat. Bagi saya, dengan 90 menit, Gravity malah sudah lebih dari cukup memberikan suatu tontonan yang luar bisa electrifying. Moreover, Cuaron berhasil memaksimalkan 90 menit tersebut menjadi menit-menit yang penuh dengan thrill, excitement hingga berhasil pula menggali sisi spiritual dan emosional bagi karakter-karakter serta pesan di dalamnya. Efeknya luar biasa, disertai dengan long-takes yang magnificent turut dibantu oleh permainan yang sangat apik dari Sandra Bullock dan Geoge Clooney. See it on the big screen if still possible. Even if its not, Gravity tetap menjadi sebuah film style WITH substance. So Houston, we have a masterpiece in here! ~FRZ
______________________________________________________________________

Gravity (2013) | Drama, Sci-Fi, Thriller | United States, United Kingdom | 90 minutes | Rated PG-13 for intense perilous sequences, some disturbing images and brief strong language | Cast: Sandra Bullock, George Clooney, Ed Harris, Orto Ignatiussen, Paul Sharma | Written by: Alfonso Cuarón and Jonás Cuarón | Directed by: Alfonso Cuarón

4 comments:

  1. Yay! Glad to see the high score Fariz, high five! I agree that the emotional aspect is in sync with the visual prowess and style. Definitely NOT style over substance at all, which is quite a feat considering the simple plot and short running time. A masterpiece I'll be rooting for come Oscar time!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yesss I'll be rooting for Gravity too!

      Delete
  2. I agree. Totally deserves all the hype. Kalo ada yang ngritik Gravity, they just don't understand. Jagoan gw buat Oscar nanti nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Don't need to be defensive :p selera orang beda2 kok, siapa tau emang gak suka hehe one of my champs for Oscar too, definitely!

      Delete