Saturday, January 24, 2015

6th VAMPIBOTS ANNUAL LIST — Best Films of 2014

Menilai suatu film (or other kinds of art, for that matter) memang bukanlah hal yang dapat diukur secara objektif. Setiap tahunnya, saya mencoba untuk selalu mencari elemen apa yang membuat saya bisa benar-benar menyukai suatu film. Tetapi rasanya yang paling tepat adalah bagaimana film tersebut mampu mempengaruhi saya secara emosional. From mega to shoestring budget. From experienced to first-time auteurs. From English to foreign languages. Ketika film tersebut mampu meraih hati saya, tidak peduli bagaimana cerita, style atau akting pemerannya, then I'm sold. Tapi bukankah itu yang dicari oleh orang-orang ketika menonton? That sense of escapism and longing of other world outside of our mundane ones? Ah atau mungkin itu hanya saya saja.

That being said, saya adalah tipe orang yang selalu mencari dimana bagusnya suatu film, that's why semakin kesini saya tidak pernah benar-benar membenci satu film. There's always a silver lining in every film. Maka dari itu saya punya banyaaak sekali film favorit. Seperti yang saya katakan sebelumnya, 2014 adalah tahun yang cukup berkesan untuk pengalaman menonton saya. Banyak film-film yang bagus yang terpaksa tidak bisa saya masukkan ke dalam list tahunan saya ini. Tetapi karena keterbatasan waktu dan juga tenaga (serta memang belum tersedianya data untuk saya tonton), rasanya banyak film yang harus dilewatkan. Sudah berbulan-bulan absen nge-blog rasanya membuat saya sering kehabisan kata-kata. So, without further ado, these are my Best Films of 2014.... Enjoy!

Honorable Mentions (alphabetically):  A MOST VIOLENT YEAR (J. C. Chandor), FOXCATCHER (Bennet Miller), GODZILLA (Gareth Edwards), THE IMITATION GAME (Morten Tyldum), INTERSTELLAR (Christopher Nolan), THE LEGO MOVIE (Phil Lord), LEVIATHAN (Andrey Zvyagintsev), LIFE ITSELF (Steve James), LOCKE (Steven Knight), NIGHTCRAWLER (Dan Gilroy), ONLY LOVERS LEFT ALIVE (Jim Jarmusch), SELMA (Ava DuVernay), SNOWPIERCER (Bong Joon-ho), WILD (Jean-Marc Vallée), X-MEN: DAYS OF THE FUTURE PAST (Bryan Singer).


20 — THE BABADOOK
Directed by Jennifer Kent
The past can haunt you, literally. Film ini tak hanya menampilkan sesosok makhluk gaib secara fisik, tetapi juga menjadi sebuah metafora dari duka dan depresi yang berkepanjangan serta hubungan disfungsional anak dan ibu yang disajikan dengan sangat meyakinkan.


19 — (tie) DAWN OF THE PLANET OF THE APES
Directed by Matt Reeves
and
HOW TO TRAIN YOUR DRAGON 2
Directed by Dean DeBlois
Ya ya ya, mungkin bisa dibilang curang, tetapi sulit bagi saya untuk mengeliminasi salah satu dari kedua sekuel ini. Yang satu meneruskan detik-detik terakhir kemanusiaan yang mulai direnggut oleh kumpulan primata cerdas, yang lainnya melanjutkan kisah pengendara naga yang mulai menjelajahi kebenaran yang tersembunyi di dunia luar. These sequels are way bigger in scope, but still have the same quality like their predecessors.


18 — UNDER THE SKIN
Directed by Jonathan Glazer
This is one bizzare film, in a very good way. Awalnya terkesan hanya ingin mengumbar fisik Scarlett Johansson sambil menikmatinya memangsa tiap laki-laki hidung belang saja, tetapi film ini lama-lama mulai memberikan suatu gambaran tentang persepsi kita terhadap penampilan luar seseorang. Ditambah lagi film ini juga memiliki salah satu score terbaik tahun lalu. 


17 — CALVARY
Directed by John Michael McDonagh
Film ini adalah bagaimana saya dapat mendeskripsikan sebuah film dark comedy. Memiliki tema yang cukup gelap dan premis yang bisa dibilang agak kontroversial karena juga menyinggung kekorupsian institusi religius, film ini menghadirkannya dengan sentuhan humor yang gamblang. A great portrayal of grief and forgiveness. 


16 — TWO DAYS, ONE NIGHT (Deux jours, une nuit)
Directed by Jean-Pierre Dardenne and Luc Dardenne
Duo Dardenne ini tak pernah gagal dalam menghadirkan sebuah kisah yang simple dan menuturkannya dengan tingkat kemanusiaan yang tinggi. Sebuah studi sosial yang sangat relevan dengan keadaan ekonomi saat ini. Plus, Marion Cotillard lagi-lagi memberikan bukti bahwa ia adalah salah satu aktris paling berbakat di generasinya.


15 — THE TALE OF THE PRINCESS KAGUYA (Kaguya-hime no Monogatari)
Directed by Isao Takahata
Tumbuh dengan membaca manga Jepang, saya tidak asing dengan kisah Putri Kaguya yang rasanya sudah diadaptasi berkali-kali dengan berbagai versi. Tetapi tidak ada yang mampu membuatnya seartistik dan seindah film ini. Tak hanya itu, saya pun akhirnya mampu menangkap pesan dari folklore legendaris yang sepertinya juga menjadi alasan mengapa Takahata memilih memakai teknik tradisional dalam membuat film ini; dimana kesederhanaan lah yang sebenarnya membuat kita bahagia.


14 — EDGE OF TOMORROW
Directed by Doug Liman 
Siapa sih yang tidak senang melihat Tom Cruise berkali-kali mati di layar lebar? Lol. Film ini saya nobatkan menjadi film blockbuster terbaik tahun lalu karena; 1) menghadirkan cerita yang cukup cerdas dibandingkan film mega budget lain, 2) menyajikan action sequences yang begitu captivating, 3) penampilan humoris dari Cruise dan badassery dari Emily Blunt, 4) and well, this film is just so so so much fun.


13 — STARRED UP
Directed by David Mackenzie
Film yang memperkenalkan saya dengan Jack O'Conell lewat penampilannya yang brutal dan tanpa ampun sebagai seorang narapidana muda yang 'naik pangkat' ke penjara yang juga dihuni oleh ayahnya. Kisahnya tentang hubungan ayah dan anak mungkin klise (we have a similar one in just a moment) tetapi dibawakan dengan begitu poignant. Film ini juga memberikan sebuah gambaran kehidupan penjara yang bagi saya terasa sangat real.


12 — IDA
Directed by Pawel Pawlikowski
Sebuah film yang ditampilkan dengan sangat cantik ini mengeksplor mengenai krisis identitas seorang calon biarawati yang dihadapkan oleh kenyataan tentang asal-usulnya. Bukan hanya krisis identitas, tetapi sebuah coming-of-age dimana sang gadis tak hanya mempelajari tentang tragedi masa lalu tetapi juga kehidupan di luar tempatnya dibesarkan. It's a riveting stuff told in short, slowly but sure.


11 — THE SNOW WHITE MURDER CASE (Shirayuki hime Satsujin Jiken)
Directed by Yoshihiro Nakamura
This year's pick of amazing detective story. Dilandasi oleh sebuah kematian seorang pekerja cantik yang seolah terlihat sempurna, film ini tak hanya semata-mata menawarkan kisah investigasi whodunit saja, tetapi juga studi karakter yang sangat mendalam sekaligus memberikan gambaran tentang bagaimana buruknya efek media (televisi maupun sosial) terhadap suatu skandal atau seseorang. I can also sense a flash of inspirastion from Rashomon too.


10 — WHAT WE DO IN THE SHADOWS
Directed by Jemaine Clement and Taika Waititi
Saya menyebutnya film paling lucu tahun 2014. Dan mengapa tidak ketika kita bisa melihat mockumentary a la Keeping Up with the Kardashians dengan bintang-bintang sekelompok vampir yang tinggal bersama dan harus beradaptasi dengan dunia modern. Semua kegilaan dan tingkah laku khas vampir (dan juga werewolves-- not swearwolves!) yang bertabrakan dengan kehidupan masa kini menjadi highlight yang sangat jenaka dan quotable dalam film ini, and there are so many of em. 


09 — THE GRAND BUDAPEST HOTEL
Directed by Wes Anderson
Wes Anderson akan selalu menghadirkan film-film yang quirky dan seakan hadir dari dunianya sendiri. Effort teranyarnya ini tentu bukan pengecualian. Dengan buncahan gambar-gambar yang sangat sangat indah serta gaya penceritaan yang begitu mengasyikan, Grand Budapest Hotel tampil dengan begitu manis. Banyak orang bilang bahwa filmnya ini adalah yang paling accessible, tetapi hal tersebut tidak membuat Grand Budapest kehilangan charm-charm yang dimiliki oleh film-film Anderson sebelumnya. Ditambah dengan barisan cast yang menampilkan akting-akting yang menawan membuat film ini memiliki pesona yang begitu irresistable.


08 — LIKE FATHER LIKE SON (Soshite chichi ni naru)
Directed by Hirokazu Kore-eda
Another father-son relationship drama, tetapi dituturkan dengan sangat menawan. Penggalan dari review saya sebelumnya; Film ini bagi saya menjadi salah satu bukti bahwa Kore-eda mampu mengubah ide cerita yang terkesan terlalu klise menjadi sebuah film yang sweet, simple and meaningful. Dengan direksi yang tender dari Kore-eda, film ini terasa begitu mesmerizing. Tak hanya tentang dilema 'anakku bukan anakku' saja, tetapi film ini juga menjadi sebuah potret transformasi seorang pria menjadi seorang kepala keluarga dan kemudian bagaimana ia menjadi seorang ayah. Film ini mengangkat sebuah isu yang complicated dengan point of view yang lebih humanis tanpa melodrama yang berlebihan.


07 — COHERENCE
Directed by James Ward Byrkit
Setiap tahun, akan selalu ada sebuah film 'kecil' yang datang dan mengejutkan saya tanpa diduga-duga. Tahun ini film tersebut jatuh kepada film ini. Sebuah film sci-fi tanpa special effect canggih dan lokasi yang sophisticated, Coherence hanya mengandalkan lontaran dialog yang lugas, set yang terbatas serta ensemble cast yang memberikan akting yang meyakinkan. Apa yang paling saya suka adalah film ini tidak berusaha terlalu keras untuk menghadirkan rentetan ide kompleks untuk terlihat pintar. The film did just that effortlessly. Tak perlu saya bocorkan tentang apa film ini. Experience it for yourself.


06 — CITIZENFOUR
Directed by Laura Poitras
NSA spying scandals mungkin adalah salah satu skandal yang cukup menghebohkan akhir-akhir ini. Sebagai negara yang menjunjung tinggi freedom of speech dan privacy, tentunya pembocoran informasi tentang badan pemerintah yang mengintai warganya sendiri oleh Edward Snowden menjadi sebuah tindakan yang sangat dielu-elukan. Saya mengaku bahwa tidak begitu mengerti dalam-dalam tentang hal ini dan tidak tahu harus memandang Snowden sebagai pengkhianat atau pahlawan, tetapi dokumenter yang menceritakan detik-detik whistleblowing serta kejadian-kejadian yang terjadi setelahnya tersebut benar-benar dibawakan dengan sangat mencekam. Setiap detik terlihat begitu candid, tapi itulah yang membuat film ini semakin menegangkan dan semakin real. Lalu saya menyadari bahwa semua ketegangan tersebut memang nyata, and that makes this doc more and more unsettling.


05 — GONE GIRL
Directed by David Fincher
Tidak banyak sutradara yang mampu membuat penonton yang menyaksikan suatu film akan berteriak 'Oh ini style-nya [insert director's name] banget!'. Dan David Fincher adalah salah satu sutradara tersebut. Mengadaptasi sebuah novel thriller karya Gillian Flynn yang menelanjangi kehidupan perkawinan modern sekaligus menyindir media yang selalu membesar-besarkan masalah, Fincher sangat berhasil menerjemahkan cerita tersebut ke bahasa visual dan membuatnya benar-benar menjadi miliknya. Dari gaya penyutradaran yang energetik, editing yang ciamik dan score yang selalu tepat hadir dalam tiap suasana menjadikan atmosfir eerie yang mencekam khas sutradara yang satu ini sukses dihidupkan untuk kesekian kalinya. Dan juga film ini mungkin turut melahirkan salah satu femme fatale baru yang dibawakan dengan luar biasa oleh Rosamund Pike.


04 — WHIPLASH
Directed by Damien Chazelle
Sebuah film yang begitu intens tentang seorang drummer-in-training dan hubungannya dengan pemimpin orkestra yang kejam, penuh dengan makian dan kepribadian manipulatif mungkin akan membuat banyak yang mengira-ngira benarkah cara tidak manusiawi tersebut akan membentuk seorang legenda? Tetapi bagi saya, film ini tidak ingin bercerita tentang kisah klasik from-zero-to-hero atau tentang hubungan murid-guru yang saling belajar satu sama lain, tetapi tentang bagaimana kemauan dan ketangguhan seseorang untuk terus maju apapun yang menghadang. Yah bisa diakui bahwa memang akan terlihat ekstrim di beberapa scene. Tetapi dengan cerita yang mudah dicerna dan familiar, penampilan yang luar biasa dari J.K Simmons, dan jazzy soundtrack yang groovy, plus ending yang sungguh sungguh satisfying tersebut membuat Whiplash sangat sayang untuk dilewati. Electrifying is an understatement for this film. 


03 — BIRDMAN OR (THE UNEXPECTED VIRTUE OF IGNORANCE)
Directed by Alejandro González Iñárritu
Menyaksikan Birdman adalah sebuah pengalaman sinematik yang unik. Tak dapat dipungkiri bahwa direksi Iñárritu disandingi dengan penyuntingan gambar dari Emmanuel Lubezki yang exquisite menjadikan film ini sebuah sajian yang begitu exceptional. Kisahnya tentang krisis identitas seorang mantan bintang film tenar yang ingin membuktikan kepiawaiannya dalam berakting serius rasanya sangat familiar dan kurang bersubstansi, tetapi Iñárritu dan segenap penulis skrip menuturkannya dengan penuh edge dan sangat berkelas serta penggambarannya terhadap dunia kelam dibalik industri entertainment juga terlihat begitu nyata. Oh, tak lupa juga dengan penampilan gemilang oleh hampir seluruh cast-nya (Keaton, Norton dan Watts yang menjadi MVP, Galianafakis yang mencuri perhatian), Birdman nampaknya menjadi film yang akan selalu diperbincangkan di tahun-tahun ke depan.


02 — BOYHOOD
Directed by Richard Linklater
Apalah arti Boyhood tanpa 'gimmick' pengambilan gambarnya yang memakan waktu selama 12 tahun? At a first glimpse, Boyhood memang terlihat begitu plain. Banyak yang mengkritik karena film ini tidak menghadirkan adegan-adegan dramatis, tidak memiliki arah dalam bercerita atau bahkan tidak memiliki klimaks. Tetapi Linklater berhasil menangkap momen-momen kecil genuine yang esensial dan dituturkan dengan apa adanya terhadap tumbuh kembang sang karakter utama. Apa yang membuat saya jatuh cinta dengan film ini adalah bagaimana film ini dapat membangkitkan suasana nostalgia ketika menontonnya. I wasn't just seeing how a boy grew up, but I can reminisce about myself in each time frame. Jadi, rasanya tak bisa menanggalkan 'syuting 12 tahun' dari Boyhood untuk menilainya. Itu lah salah satu yang membuat film ini berbeda dengan yang lain. Maybe right now it's not the definitive #1 choice for me, but I still believe Boyhood is one for the ages. A timeless piece of cinema.


01 — FORCE MAJEURE
Directed by Ruben Östlund
What makes a man, a man? What makes a man, a good husband or a great father? Apakah pekerjaan yang mapan? Tampang yang menawan? Fisik yang gagah? Atau ketika lelaki tersebut rela berkorban untuk orang-orang yang ia cintai? Bercerita tentang sebuah instinctive survival actions yang menggetarkan suatu fondasi dari keluarga (yang terlihat) sempurna, Force Majeure tidak hanya membahas dan mempermalukan maskulinitas dan male ego, tetapi juga tentang gender roles, trusts dan relationships. Dan seperti sebuah snowball effect, tindakan 'kecil' tersebut semakin lama semakin membesar dan mempengaruhi orang-orang di sekitar mereka. Dengan sebuah premis yang terdengar sangat sederhana tersebut, Ruben Östlund sukses meramunya menjadi sebuah sajian yang unsettling dan thought-provoking (and I mean it in a good way). Ditambah lagi dengan sedikit sentilan humor gelap dan gambar-gambar indah didalamnya. Film ini tentu bukan film yang 'nyaman' untuk disaksikan, tetapi Force Majeure adalah sebuah film yang menohok dan berhasil meninggalkan impresi yang besar. Dan nyatanya, pesona nostalgia yang dibawa oleh Boyhood, bravura performa yang ditampilkan dalam Birdman atau letupan perkusi yang dimainkan Whiplash tidak mampu menggoyahkan tamparan yang dilontarkan oleh film asal Swedia ini. Like they said, a total knock-out.

Recap:
1. Force Majeure
2. Boyhood
3. Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance)
4. Whiplash
5. Gone Girl
6. Citizenfour
7. Coherence
8. Like Father Like Son
9. The Grand Budapest Hotel
10. What We Do in the Shadows
11. The Snow White Murder Case
12. Ida
13. Starred Up
14. Edge of Tomorrow
15. The Tale of the Princess Kaguya
16. Two Days, One Night
17. Calvary
18. Under the Skin
19. (tie) Dawn of the Planet of the Apes / How to Train Your Dragon 2
20. The Babadook

So there they are, my Best Films of 2014. Stay tuned to see what I chose to be the Best Male and Female Performances, coming real soon!

8 comments:

  1. Yeee...akhirnya, berburu film dimulai : )
    Makasih Riz

    2 jempol buat lo deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 :D makasih jg sudah berkunjung!

      Delete
  2. Whoa keren banget list film kamu!!! Suka kagum sama org2 yang bisa punya tontonan ga umum :)

    Sy pengen bgt nntn Birdman tp belum sempat :(

    Best movie sy di 2014 adalah Rurouni Kenshin ... sukaaaaaa bgt sama live action itu, sy bahkan memasukkan itu ke dalam "one of best adaptation movies"

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih banyak Miss :) wah blm sempet nntn Rurouni Kenshin, ntar nyoba nyari dehh

      Delete
  3. Kak, aku juga suka banget sama Force Majeur! Bisa bikin ketawa geli padahal yang lagi ditampilkan di layar bukan sesuatu hal yang bisa diketawain. Apalagi pas sekeluarga nangis numpuk-numpuk, itu geli banget ketawanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa pi! yg adegan nangis sekeluaga itu lucu bgt haha

      Delete