Tuesday, June 28, 2011

Review: Somewhere (2010)

Plot: Johnny Marcus (Stephen Dorff) adalah seorang bintang film Hollywood ternama. Hari-harinya ia habiskan dalam Chateau Marmont, sebuah hotel di California yang memang sudah dikenal sebagai tempat singgahan aktor-aktor maupun musisi ternama. Dibalik ke-glamoran hidupnya, ternyata Johnny agak sulit untuk merasakan rasa pleasure dalam dirinya, mengundang pole dancer tiap malam tetap tidak menambahkan gairah hidup yang signifikan. Suatu hari, mantan istrinya, Layla (Lala Sloatman) menitipkan Cleo (Elle Fanning), anak perempuan mereka yang berumur 11 tahun. Layla diceritakan 'harus' pergi menjauh dulu dalam sementara waktu dengan alasan yang kurang jelas, membuat Johnny harus menghabiskan waktunya oleh anak semata wayangnya ini, termasuk membawanya ke acara award presentation di Italy. Kebersamaannya dengan Cleo lah yang menyadari Johnny, there's more to life than just fame and fortune.

Review: Ada hal yang begitu unik dan sangat menarik jika kita membicarakan film-film arahan Sofia Coppola. Sofia, yang juga adalah anak perempuan sutradara ternama Francis Ford Coppola ini memang memiliki repertoire yang bisa dihitung dengan jari, tetapi untuk urusan kualitas, Sofia menurut gw adalah salah satu sutradara yang memiliki ciri khas yang paling distinctive dibanding sutradara lainnya nowadays. Film-filmnya Sofia itu entah mengapa begitu, can I say, 'original'? Karena setiap menonton, terlihat dengan jelas sentuhan Sofia di dalamnya. Gw sukaaa banget sama Lost in Translation yang 'berbicara banyak' walau di tengah kesunyian dialog. Kurang begitu suka sama Virgin Suicides maupun Marie Antoinette (update: re-watched Marie Antoinette, and I LOVE IT!) , yang walaupun begitu tetap memiliki ciri khas seorang Sofia. Dari statement tersebut, kadang terasa sulit ketika ingin membandingkan film-film Sofia dengan film-film lainnya. Dalam film Somewhere, Sofia lagi-lagi bereksplorasi dalam sebuah tokoh yang "seharusnya" living his life to the fullest (melihat pekerjaannya), ternyata merasakan hampa di dalam dirinya. Tema ini juga diangkat dalam film Lost in Translation. Dalam Somewhere, Johnny Marcus lah orang yang dimaksud.

Film dibuka dengan mobil Ferrari hitam yang berputar-putar selama beberapa kali. Apa indikasinya? Ternyata munculah sang tokoh utama, Johnny Marcus. Kalau berdasarkan penggambaran di filmnya (dan dari wiki), Johnny terlihat sebagai seorang yang tidak bisa merasakan kesenangan, atau istilah lainnya anhedonia. Dari awal, dengan 2 orang pole dancers menari-nari erotis (in a weird way, I found it really hilarious) di tiang tidak begitu menarik perhatian Johnny yang ternyata lebih memilih untuk tidur. Sama seperti ketika apa yang harusnya menjadi sebuah one-night-stand, eh doi malah jatuh tertidur lagi di tengah-tengah foreplay. Somewhere memang memfokuskan pada rasa kesendirian yang dirasakan oleh Johnny. Dia adalah seorang aktor yang, kayaknya sih, cukup punya nama. Tetapi dibalik laga aksinya, hingga senyumya dalam promotional shoot, nyatanya Johnnya tidak merasakan senang. Hingga datanglah Cleo yang pada akhirnya menunjukkan bahwa sebenernya yang ia perlukan adalah esensi kehangatan cinta (-_-" weird phrase) dibandingkan kehidupan hedonisnya yang selama ini ia jalani.

Apa yang sepertinya ingin gw garis-bawahi adalah Sofia's amazing attention to details. Coba perhatikan scene-scene yang berjalan sangat lama dalam film ini. Terkesan seperti buang-buang waktu, tapi dengan begitu, kita jadi kayak bener-bener meresapi apa yang ingin disampaikan Sofia. We see what she sees, begitulah kata seorang kritikus. Contoh lain adalah beberapa scene yang hendak mempertegas rasa kesendirian seorang Johnny Marcus, misalnya adalah suara-suara backdrop ketika Johnnya duduk di sebuah cafe, atau lagu sendu di tengah-tengah party yang di-throw oleh temennya, lalu rasa paranoid Johnny yang berhubungan dengan dugaan SUV stalker atau sms-sms yang mengancam. Hingga detail-detail kecil seperti dialog-dialog casual antara Cleo dan Sammy (Chris Pontius), bahkan pijakan agar Johnny terlihat lebih tinggi dibandingkan rekan mainnya di sebuah sesi pemotretan. Contoh-contoh itu sebenernya hanyalah secuil dari beberapa long-long scene yang ditampilkan dalam film ini. Scene-scene terbaik menurut gw termasuk ketika Johnny membawa Cleo ke latihan ice-skating, ketika Johnny me-notice bakat yang dimiliki Cleo. Atau mungkin saat that infamous, face-masking sequence yang sepertinya menggambarkan rasa loneliness yang Johnny rasakan serta endingnya yang menyimbolkan kesadaran Johnny.

Sepertinya gak afdol kalo gak ngomongin pemain-pemainnya juga. Praktis, walaupun gak one-man-show banget, Stephen Dorff adalah bintang film ini. Dan dalam memerankan Johnny, Dorff sudah sangat berhasil menangkap rasa galau dalam kesendirian (apa dehh) dengan sangat baik. Ekspresinya begitu pas dalam memerankan karakter ini. Elle Faning sendiri walaupun tidak begitu memiliki banyak dialog, dan screen time yang gak begitu banyak di paruh awal nyatanya memberikan kesan manis tersendiri bagi yang menonton (at least buat gw sih). Jangan lupakan beberapa cameo yang muncul dalam film ini, seperti Michelle Monaghan yang berperan sebagai Rebecca, lawan main Johnny dalam film barunya, hingga Benicio del Toro yang (menurut asumsi gw sih) bermain jadi dirinya sendiri, seorang aktor yang juga sama-sama menginap di Chanteau Marmont. Dan whoooops, hampir lupa, satu elemen yang selalu akan kita jumpai dalam film-film Sofia Coppola dan menurut gw juga salah satu kelebihannya. Sofia memiliki taste musik yang sangat sangat bagus. Lagu-lagu yang ada di film ini terasa begitu memikat dan efektif dalam membangun suasana di setiap adegan. Soundtracknya malah diisi sama Phoenix lho!

Overview: Banyak orang yang mengkritik film ini, selain karena butuh kesabaran untuk mengikuti film ini dari awal sampai akhir, tapi juga unsur repetitif di dalamnya. Memang gw akui, tema yang ia angkat dalam film ini sudah pernah Sofia bawakan dalam karya-karya terdahulunya, kalo boleh dibilang, sebelas-duabelas dengan film yang membuatnya mendapat Oscar beberapa tahun lalu, Lost in Translation. Entah mungkin gw sudah jatuh cinta dengan gaya penyutradaraan Sofia atau gimana, menurut gw Lost in Translation dan Somewhere memang memiliki benang merah yang cukup kentara, tapi tidak membuat mereka menjadi sebuah film yang entirely the same. Mereka memiliki charm-nya masing-masing. Sofia's attention to detail, great performances dan sebuah penggambaran loneliness dan depression yang ngena membuat gw sangat SUKA dengan film ini. Sebenernya masih banyaak lagi yang pengen gw omongin dari film ini, tapi lebih baik kalian menginterpretasikannya sendiri. Sepi, tenang, breezy, warm, menonton film ini seperti berjemur di sore hari seperti yang Johnny dan Cleo lakukan dalam posternya. Sebuah masterpiece lagi dari seorang Sofia Coppola.

(*****)
Somewhere (2010) | Drama | Rated R for sexual content, nudity and language | Cast: Stephen Dorff, Elle Fanning, Chris Pontius, Lala Sloatman | Written and directed by: Sofia Coppola

6 comments:

  1. Parah, ini sih beneran underrated. Bagus nih film padahal. Satu hal yg gw gasuka tuh openingnya, agak nonsense aja gitu, kurang diapain gitu gw jg gangerti.

    ReplyDelete
  2. lho malah menurut gw openingnya termasuk melukiskan atmosfir filmnya sama rasa galau nya Johnny lho hehe

    ReplyDelete
  3. hmm iya sih apa gw aja yg ga t'lalu ngeh. lumayan suka sm nih film, but, emg ada michelle monaghan? pas kapan?!

    ReplyDelete
  4. ada kok Dan, dia jadi lawan main filmnya Johnnya, dia ada pas foto2 sama posternya itu lho

    ReplyDelete
  5. Memang tipikal film Coppola begitu banyak scene yang butuh mood buat mentafsirkannya.. Saya suka soundtracknya, tapi dicari cari kog ngak dapet ya huhu.nice review

    ReplyDelete