Wednesday, August 7, 2013

REVIEW: Claustrophobic Space Thriller "Europa Report" is Terrifyingly Realistic but Could Have Flown Higher

Selagi menunggu film thriller luar angkasa milik Alfonso Cuaron, Gravity, yang akan dirilis beberapa minggu lagi, ternyata telah hadir sebuah film 'kecil' dengan genre serupa berjudul Europa Report. Entah darimana datangnya (atau saya saja yang ketinggalan info ya?), film garapan sutradara asal Ekuador Sebastián Cordero ini akan mengajak kita dalam petualangan enam astronot untuk mencari tanda-tanda kehidupan di salah satu bulan milik Jupiter, Europa.

Keenam astronot tersebut terdiri dari astronot dari berbagai belahan dunia. Ada  Daniel Luxembourg (Christian Camargo),  Willam Xu (Daniel Wu), Rosa Dasque (Anamaria Marinca), Andrei Blok (Michael Nyqvist), Katya Petrovna (Karolina Wydra), dan James Corrigan (Sharlto Copley). Dengan mengusung trend found footage yang juga sedang booming, kita akan menyaksikan perjalanan mereka yang berjalan hingga berbulan-bulan di luar angkasa tersebut. Tentunya, dengan resiko yang tinggi mengirim enam orang ke sebuah tempat nun jauh seperti Jupiter, akan menimbulkan beberapa bumps along the way. Tak hanya rasa homesick yang dialami oleh para astronot, tetapi juga kecelakaan-kecelakaan teknikal hingga putus totalnya hubungan mereka dengan bumi. Sounds familiar? Well.. Think again. Karena Europa Report ternyata lebih 'pintar' dari apa yang ditawarkan dalam premisnya.

Apa yang saya appreciate dari film ini adalah bagaimana film ini tidak mengesampingkan sisi science yang seharusnya memang terkandung dalam film 'science-fiction'. Lewat beberapa tidbits mengenai bulan Europa itu sendiri hingga karakter-karakter di dalamnya yang memang terlihat sebagai real scientists. Ada sebuah ke-genuine-an dalam setiap aksi dan reaksi para tokoh. Walaupun masih ada beberapa hal yang dilakukan oleh karakter yang patut dipertanyakan, selebihnya mereka terlihat layaknya profesional dalam bidangnya (not acting, but the characters' professions).  Terkadang beberapa kata-kata sophisticated dan teknikal yang diperbincangkan oleh para tokoh sedikit terdengar asing di telinga penonton awam, tetapi secara garis besar masih dapat ditangkap maksudnya. With that being said, sayangnya scriptwriter Phillip Gellat kurang dapat memaksimalkan pengembangan karakter-karakter di dalamnya. Walaupun secara tim, mereka tampak kuat dan memiliki perannya masing-masing, secara individu, penonton menjadi kurang dapat terhubung dengan karakter-karakternya. Walaupun tentunya, nama-nama asing dalam cast-nya juga tidak membuat penonton terdistraksi dengan karakter-karakter tersebut.

Dari awal film sebenarnya saya menunggu kemunculan makhluk-makhluk extra terrestrial di layar. Atau setidaknya beberapa kecelakaan-kecelakaan besar nan bombastis yang berujung maut. Nyatanya, film ini berhasil memberikan ketegangan tanpa hal-hal tersebut (well except that one scene towards the end). Dari awal film, sepertinya sudah cukup disinggung bahwa film ini tidak akan memiliki ending yang sepenuhnya bahagia, so what I give are not spoilers. Beberapa kejadian yang menimpa para astronot tersebut, entah sebuah kesalahan sepele atau miskalkulasi, terlihat begitu real dan believable. Bentuk-bentuk perjuangan atau pun pengorbanan diri yang dilakukan oleh mereka terkesan sangat plausible dan 'manusiawi' untuk dilakukan. Bahkan, to an extent, bisa dikatakan cukup heroik. Kurangnya pengembangan karakter memang agak sedikit mempengaruhi sisi emosional yang seharusnya hadir dalam beberapa scene. Tetapi dengan faktor convincing tadi, apa yang hadir di layar ternyata masih dapat memberikan aura ketegangan yang cukup efektif.

Bersetting hanya dalam beberapa set, Europa Report rasanya cukup berhasil dalam memberikan suasana klaustrofobik dan alienation yang terjadi dalam Europa One, tanpa perlu adanya dramatisasi yang berlebihan. Dengan sejumlah kamera yang terpencar dalam berbagai tempat di pesawat ulang-alik Europa One tersebut, muncul keterbatasan dalam ruang gerak para karakter. Tetapi hal tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh Cordero dalam mengemas suasana 'terperangkap-dan-terputus-koneksi-dengan-bumi' di awal tersebut. Mungkin dengan alasan untuk menambah ketegangan pula, Europa Report dikemas dalam sebuah potongan-potongan video yang tidak berjalan linear. Tidak begitu kompleks memang, walaupun pergantian dalam timetable cukup bisa membuat penonton bingung sesaat. Beberapa potongan video layaknya sebuah dokumenter juga hadir disini. Lucu, karena style film ini mengingatkan saya dengan film Sharlto Copley sebelumnya, District 9 di tahun 2009 lalu. Hal ini entah mengapa membuat saya kurang begitu terhibur di paruh awal film ini yang terasa terlalu di-stretch untuk membangun tensi. Untungnya, di paruh kedua film ini mulai menunjukkan taringnya.

Overall, dengan budget minim dan keterbatasan set, Cordero cukup berhasil memberikan sebuah ketegangan atmosferik dan klautrofobik dalam Europa Report, walaupun saya masih sedikit terganggu dengan presentasi found footage dan editing yang kurang halus di sini. Dengan convicing facts and plausible acts di dalamnya, Europa Report menjadi tontonan yang juga 'berisi' dan menambah unsettling feeling karena hal-hal dalam film ini besar kemungkinan dapat terjadi. But I couldn't help but feeling a little bit unsatisfied after watching this film. Film ini memiliki potensi untuk menjadi film yang groundbreaking, tetapi rasanya masih ada yang kurang dalam penyajiannya. But then again, Europa Report is that little film that needs to be appreciated more. 

Grade:
Europa Report (2013) | Sci-Fi, Thriller | Rated PG-13 for sci-fi action and peril | Cast: Christian Camargo, Embeth Davidtz, Anamaria Marinca, Michael Nyqvist, Daniel Wu, Karolina Wydra, Sharlto Copley, Dan Fogler, Isiah Whitlock Jr. | Written by: Phillip Gelatt | Directed by: Sebastián Cordero

7 comments:

  1. Great review Fariz. Btw, Selamat Lebaran ya :D

    As a big fan of Sharlto Copley I definitely would rent this. I see it's not a perfect film but it's got enough going for it that I think I'd enjoy it.

    Btw, you've heard of The Act of Killing right? I've got the review and interview w/ the director done for posting later today, hope you'll check it out. A MUST for every Indonesian. Directornya jg bisa ngomong Bahasa Indo lho, very cool :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, and thank you again :)

      It is not flawless, but still a good film nonetheless. And yesss I just posted a comment on your blog about your interview with him lol looking forward to read it!

      Delete
    2. Btw, thanks for correcting the spelling of Mr. Oppenheimer! I can't believe I misspelled it. I actually posted the MP3 of the interview so you can listen to him directly, I broke 'em off in chunks to make it more digestible. He's a fascinating director, hope he makes more films!

      Delete
    3. No problem :) Thank you for the interview, it was great! I have already posted a comment in the post :D

      Delete
  2. Fariz liat dimana???? pgn bgt nntn tp ga ada di 21 :(

    Semua review bilang ini bagus dan emang pgn nntn juga krn Sharlto adalah salah 1 aktor yg akan selalu sy tntn betapapun jelek filmnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jawaban yg sama dengan yg lain; donwload hehe di lapak2 mungkin udah ada miss, udah jernih bgt gambarnya :p

      Delete
  3. Yah kirain ada di blitz atau 21 mana gitu ;)
    Ya sud UUD lagi d! Kbtlan lagi binggung mau DL apa lagi.

    ReplyDelete