Wednesday, April 20, 2011

Review: Elephant (2003)

Plot: Hari itu terlihat seperti hari sekolah seperti biasa. John McFarland (John Robinson) diantar sekolah oleh ayahnya yang alcoholic; Elias (Elias McConnell) hunting objek untuk portofolio-nya, Michelle (Kristen Hicks) masih bergeliat dengan krisis percaya diri; Brittany, Jordan, Nicole (Brittany Mountain, Jordan Taylor, and Nicole George) yang bergossip, dan kegiatan-kegiatan normal siswa SMA lainnya. Apa yang tidak mereka ketahui adalah pada hari itu juga, 2 orang siswa, Alex (Alex Frost) dan Eric (Eric Deulen) sedang merencanakan sebuah aksi penembakkan di sekolah mereka.

Review: Dua belas taun yang lalu, tepatnya tahun 1999, Amerika dan dunia dihebohkan dengan sebuah peristiwa yang kini lebih dikenal dengan sebutan Columbine High School Massacre. Pada tanggal 20 April tersebut, dua orang siswa Columbine High School, Eric Harris dan Dylan Klebold berangkat ke sekolah membawa senapan dan membunuh 13 orang dan puluhan luka-luka. Disebut-sebut sebagai 'deadliest school shooting in the history of American high school' (yang kemudian terjadi lagi peristiwa serupa pada tahun 2007 di Virginia Tech University, dengan korban yang lebih banyak lagi, bahkan ada orang Indonesianya). Gw masih berumur 7 tahun pas gw baca beritanya dan kayaknya gw gak gitu ngerti dan mikirin. Tapi beberapa taun setelah itu, tepatnya pas abis gw nonton film dokumenternya Michael Moore, Bowling For Columbine (sampai saat ini kayaknya film dokumenter favorit gw nih), gw ngerasa jadi agak 'tertarik' dengan Columbine Massacre dan peristiwa school shooting lainnya. Bukannya pengen ikutan, tapi lebih bertanya-tanya kenapa kok bisa kejadian kayak gitu terjadi. Elephant adalah satu dari sekian contoh film yang terinspirasi dari kejadian tersebut.

Gw akan tegaskan dari awal bahwa film arahan Gus Van Sant ini menurut gw adalah contoh film love it or hate it. Sepertinya film ini ada di tengah-tengah batas antara film mainstream dan film arthouse. Memiliki pakem dan style yang berbeda dengan film-film Hollywood kebanyakan, film ini juga terlihat gak arthouse-arthouse banget (sotoy-dot-com). Kalau ingin menilik mengapa film ini berbeda dengan film mainstream adalah dengan teknis yang dipakai van Sant dan aktor-aktornya yang mayoritas adalah unknown faces. Film ini menggunakan teknik yang orang-orang sebut sebagai long-take. Hampir semua adegan di-shot dalam satu shot panjang, yang memperlihatkan kegiatan beberapa orang siswa beberapa saat sebelum peristiwa penembakan terjadi. Long-take2 yang dipakai terkadang memiliki durasi yang cukup lama. Beberapa berhasil membuat gw menekan tombol fast forward :p Tetapi beberapa berhasil membuat gw duduk termenung memperhatikan every single detail. Timeline yang tidak teratur dan terulang-ulang (kayak Vantage Point, sayangnya gw belom nntn Rashomon) juga bisa bikin kita bingung.

Elephant sama sekali tidak memberikan jawaban yang jelas terhadap motif sang pelaku melakukan aksinya. Entah tidak ingin men-judge atau apa, karena memang dalam Columbine Massacre pun dua orang siswa mengakhiri hidupnya hingga jawaban terhadap mengapa mereka melakukan hal itu pun masih menjadi misteri hingga sekarang. Walaupun banyak spekulasi dan dugaan kuat, tetapi masih belum authentic. Sama seperti kejadian aslinya, kita pun terpaksa mengasumsikan sendiri. Film ini lebih condong kepada penuturan tentang kehidupan SMA di Amerika melalui karakter-karakternya. Masing-masing tokoh terlihat biasa, melakukan aktifitas sekolah seperti biasa. Lebih jauh lagi, Gus van Sant menyinggung tentang masalah alcoholic parent yang dialami John, bullying yang dialami Alex, body self-esteem, bullimia, hingga masalah yang lebih dalem lagi mengenai purchasing senjata api yang dengan mudah dilakukan Alex & Eric. Poin terakhir itu juga menjadi subjek utama dalam film Bowling For Columbine. Film ini juga menyinggung sedikit tentang homoseksual (adegan shower dan diskusi forum Gay-Straight Alliance).

Kalo dari wikipedia, Gus van Sant menggunakan judul 'Elephant' diinspirasi film pendek yang berjudul sama. Van Sant mengasumsikan bahwa judul tersebut berhubungan dengan cerita blind men and elephant. Kalau tidak salah menangkep, ceritanya tentang beberapa orang buta yang bertemu dengan seekor gajah di perjalanan. Mereka, satu-persatu, berusaha untuk meng-identifikasi makhluk tersebut. Karena gajah memang berukuran besar dan orang-orang tersebut mendeskripsikan gajah itu hanya dalam area yang terjangkau bagi mereka, tentu saja hasil deskripsi mereka berbeda-beda. Tidak salah sebenernya, tapi karena mereka hanya melihat sepersekian dari bagian gajah tersebut, tidak secara keseluruhan, mereka jadinya gak bisa menggambarkan dalam otak mereka wujud gajah itu secara sempurna. Kalau mau dihubungin sama filmnya, sepertinya maksud judul dalam filmnya adalah orang-orang yang melihat sesuatu dari permukaannya, gak secara menyeluruh dan garis besar, jadinya nge-affect judgment di akhir. Melalui film ini, kita juga dibuat berasumsi sendiri-sendiri. Kita gak tau dengan jelas kan alasan aksi Alex dan Eric. Karena bullying? Muak dengan guru and/or sekolah? Atau jangan-jangan cuman karena iseng?

Overview: Untuk men-describe film pemenang Golden Palm dalam Cannes Film Festival tahun 2003 ini, gw akan mengatakan bahwa Elephant adalah sebuah film sederhana dan kompleks di saat yang bersamaan. Sedikit aneh memang, tapi itulah yang gw tangkep. Film ini sederhana dari segi cerita secara keseluruhan, walaupun terdapat ambiguitas yang sepertinya diberikan van Sant sebagai tugas kita meng-interprestasikannya masing-masing. Tapi jika diperhatikan lebih dalam lagi, film ini memiliki statement yang dalem dan alur yang bertutur dengan cara yang non-konvensional. To be honest, film ini memang sedikit sulit diikuti, perlu adanya kesabaran dan ketelitian untuk bisa menikmatinya. Di tengah kesunyian film ini dengan minimnya dialog, gw malah merasa bahwa film ini cukup disturbing. Bagaimana kegiatan-kegiatan mundane sehari-hari--bahkan sudah menjadi sebuah 'kebiasaan', dan stereotipe strata di sekolah bisa berubah seketika dan bahkan bisa saja menjadi alasan mengapa 20 menit terakhir dalam film ini bisa terjadi. Waspadalah, waspadalah....

(****)
Elephant (2003) | Drama, Crime | Rated R for disturbing violent content, language, brief sexuality and drug use - all involving teens | Cast: Alex Frost , Eric Deulen, John Robinson, Timothy Bottoms, Matt Malloy, Elias McConnell, Nathan Tyson, Carrie Finklea, Kristen Hicks, Brittany Mountain, Jordan Taylor, and Nicole George | Written and directed by: Gus van Sant

5 comments:

  1. wah, dua hari yang lalu gue juga baru nonton film ini. dan terpukau! betul sekali, film ini memang bukan tentang sebab-akibat. karena kalau penyebabnya, tidak semudah itu untuk merumuskan penyebab terjadinya massacre itu berkaitan dengan banyaknya variabel yang mempengaruhi seorang remaja untuk memutuskan bunuh diri sekaligus membunuhi orang lain.
    tapi adegan yang paling disturbing menurut gue adalah bagaimana membeli senjata semudah membeli pizza :D

    btw salam dari tiketbioskop.blogspot.com :D

    ReplyDelete
  2. lol memang gampang banget ya beli senjata api di situ, yang nerima underage aja gpp.. salam balik :) saya link ya

    ReplyDelete
  3. nonton film ini pas SMP kalo gag salah... dan sukses bikin mata merem-melek...

    tapi berhubung nonton film ini tanpa tahu film ini bercerita tentang apa, baru di adegan akhirnya bener-bener ngeh kalo film ini soal pembunuhan berdarah yang terjadi di sekolah di US. hahaha..

    tapi sumpah, pada gag ngantuk apa nonton film ini??

    ReplyDelete
  4. Wah, ini adalah salah satu film favoritku di tahun 2000-an. Keren! Penasaran juga dg Bowling for Columbine tapi belum sempat ditonton juga :(

    ReplyDelete
  5. @niken: saya sempet merasakan filmn ini agak sedikit kepanjangan jg kok adegan long take nya hehe

    @tariz: nntn deh kk, saya suka bgt sama bowling for columbine

    ReplyDelete