Sunday, April 1, 2012

Review: The Raid (2012)

Plot: Sejumlah tim SWAT Indonesia diberikan tugas untuk menyerbu sebuah gedung yang ditempati oleh seorang bos kriminal (Ray Sahetapy) dan antek-anteknya. Dengan sebagian dari mereka yang belum memiliki pengalaman yang cukup serta para penghuni gedung yang berusaha untuk mengusir tamu tak diundang tersebut, aksi penggerebekan itu berubah menjadi aksi penyelamatan diri.


Review: Gareth Evans adalah seorang sutradara asal Welsh, Irlandia. Ia begitu terpukau dengan martial art dari Indonesia yang biasa kita sebut dengan 'silat' ini hingga beberapa tahun yang lalu, ia membuat film action Indonesia berjudul Merantau yang lumayan sukses menaikkan namanya di perfilman Indonesia. Tahun ini, Evans kembali dengan film The Raid. Evans kembali bekerja dengan Iko Uwais, peran utama yang juga muncul di filmnya sebelumnya. Setelah premiere di Toronto International Film Festival, The Raid mendapatkan award Midnight Movie Madness dan kemudian juga mendapat sambutan yang sangat meriah setelah muncul di festival-festival film lainnya. Dengan segala hype yang begitu banyak diterima oleh film ini dari segala penjuru kritikus dan penikmat film di seluruh dunia, The Raid tentu berstatus sebagai film Indonesia yang paling terkenal di seantero jagat (lebay dikit). Praise yang diberikan untuk The Raid benar-benar luar biasa, seingat saya tidak pernah ada film Indonesia lainnya yang mendapat pujian bertubi-tubi sebanyak ini. With that fact, saya awalnya merasa agak khawatir akan dikecewakan dengan film ini, karena film ini bisa saja ditempatkan sebagai film yang overrated. But, seriously, The Raid lived up to its hype.

The Raid, sama dengan judulnya, bercerita tentang usaha aksi penggerebakan seorang bos kriminal bernama Tama (Ray Sahetapy) yang tinggal dan mengatur semacam rumah susun di tengah-tengah kota Jakarta. Sudah bertahun-tahun polisi hingga lawan-lawan kriminal Tama berusaha untuk mengeluarkan Tama dan merebut tempat tersebut. Tetapi usaha-usaha tersebut gagal karena memang di setiap lantai bawahan-bawahan Tama sudah siap untuk melawan orang-orang yang mengganggu 'ketenangan' hidup mereka. Dalam satuan polisi yang berusaha untuk menggerebek itu ada Sersan Jaka (Joe Taslim) yang memimpin mereka, lalu atasannya Wahyu (Pierre Gruno) dan Rama (Iko Uwais) serta sejumlah polisi yang sebenarnya belum begitu memiliki banyak pengalaman dalam penyerbuan. Tentu saja dengan jumlah mereka yang tidak begitu banyak, Tama dan tangan kanannya, Andi (Doni Alamsyah), Mad Dog (Yayan Ruhian) serta para penghuni rumah susuh itu yang berdedikasi untuk menyelamatkan sang bos dengan cukup mudah 'menghabisi' mereka satu persatu. Dari plot tersebut, sebenarnya memang bisa ditebak bahwa The Raid ini tidak begitu memfokuskan dengan cerita nya. Ya memang, plot nya tipis dan tidak begitu memiliki peran penting dalam film ini. Beberapa twist juga sebenarnya bisa ditebak dan tidak begitu membuat surprise juga.

Tetapi The Raid memang tidak berbohong ketika ia mendeklarasikan dirinya sebagai film yang full action. Sepanjang film kita akan dihadapkan dengan aksi-aksi tembak menembak hingga baku hantam yang tidak ada habisnya. Pencampuran dari tembak menembak yang luar biasa sadis dalam hitungan detik tersebut (dari jarak jauh hingga jarak dekat) hingga perkelahian dengan parang serta tangan kosong ini menawarkan aksi yang begitu dahsyat. Ritme action yang di-set oleh Evans begitu pas, ada beberapa sela yang membuat penonton mampu mengambil nafas sebentar sebelum darah bermuncratan lagi. Perkelahiannya di koreografi dan diatur dengan begitu rapi, membuatnya tampil sangat nyata. Sejujurnya, saya bingung ingin memberikan komentar apa lagi tentang action film ini. It's TOO cool and amazing. Saya yang tidak pernah selera dengan film-film sejenis ini, bisa begitu appreciate dengan hasil The Raid. Rapi dan begitu berkelas. Dari sejumlah adegan-adegan gila tersebut, The Raid tidak malu-malu juga dengan kesadisannya. Semua tampil 'vulgar' dan explicit. Itu lah yang membuat film ini lebih baik disaksikan di bioskop, reaksi penonton yang begitu ramai membuat menonton film ini jadi lebih seru. But no, don't bring your kids like some stupid parents did. This is not suited for children, d'oooh?

Tetapi bagi saya, plot nya yang tipis tadi bukanlah yang menjadi masalah, tetapi lebih ke dialognya dan akting para pemain yang agak minus. Dialognya, walaupun terkadang menampilkan black comedy yang cukup segar, sisanya terasa begitu corny. Belum lagi dengan para aktor yang memiliki kemampuan artikulasi (eaaa sok bener) dalam penyampaian dialog yang kurang baik, membuat saya sulit menangkap apa yang mereka bicarakan. But when you get to all the actions, you won't really care much about the those things anymore. Saya juga suka dengan bagaimana Gareth Evans juga memakai sejumlah aktor (yang saya rasa memang amatir) dari segala etnik. Ada yang tipikal Jakarta, lalu Jawa, Chinese hingga Ambon (salah satu highlight film ini). Entah disengaja atau memang tidak ada maksud tertentu, saya rasa itu juga menjadi salah satu poin yang menunjukkan film ini 'Indonesia banget' dengan menampilkan keberagaman etnik yang kita punya. Selain actionnya, score yang ditulis oleh Aria Prayogi dan Fajar Yuskemal juga sebenarnya sudah sangat baik mengiringi segala macam pertempuran yang tersedia. Entah mengapa untuk versi internasionalnya akan diganti dengan score buatan Mike Shinoda-nya Linkin Park. Belom denger sih, mungkin memang lebih bagus, tetapi mungkin juga buat alasan komersial juga ya.

Overview: It's a masterclass of action-driven movie. Film ini benar-benar memberikan sebuah pengalaman menonton yang begitu seru dan mampu membuat penontonnya menahan nafas hampir sepanjang film. Terkadang kita memang tidak perlu memikirkan plotnya yang tipis dan dialognya yang corny, karena memang kita akan di-bombardir dengan segala bentuk serangan. Tetapi memang ada kalanya saya terganggu dengan dialognya, makanya saya pun masih bingung harus memberikan berapa nilai yang pas untuk film ini. But who cares about rating anyway when this movie's purpose is to give us an amazing amount of action scenes. And by that, I'm utterly satisfied. Beautifully paced, edited, choreographed and structured, The Raid put hell in 'Hell...ooo, Indonesians can absolutely kick Hollywood's ass!'. Bravo!

[B+]

The Raid (2012) | Action, Crime, Thriller | Rated R for strong brutal bloody violence throughout, and language | Cast: Iko Uwais, Joe Taslim, Doni Alamsyah, Yayan Ruhian, ierre Gruno, Ray Sahetapy, Tegar Satrya, Iang Darmawan, Eka 'Piranha' Rahmadia, Verdi Solaiman | Written and directed by: Gareth Evans

5 comments:

  1. Mank The Raid keren bro... Gw juga demen liat darah-darahnya.. Hehe...

    ReplyDelete
  2. Hahaha memang mantap filmnya :)

    ReplyDelete
  3. Totally agree with your post! Even when I watched it at the cinema, a lil' boy crying on the action scene, means almost all the time -_-
    The highlight was when the ambon said: "Saya kalau marah menggila, jangan kau tipu2" that's super LOL, pecah bgt seisi bioskop hahaha.
    Their acting might be so so, but it's the best action film eveer (Y). Nice posting you got there :D

    ReplyDelete
  4. Ah masa bodo sama komen opa ebert ke film ini. Asal film action itu bisa seru & adegan berantemnya keren udah cukup lah & The Raid salah satu film action paling keren! :D

    ReplyDelete
  5. @Nadia: lol, that Ambon guy really one of the comical highlights of The Raid! Anyway, thanks :)

    @Rasyid: haha iya bingung kok Ebert bisa benci bgt sama film ini ya :s setuju, filmnya memang no-brainer tapi seru dan actionnya top bgt!

    ReplyDelete