Friday, July 13, 2012

Review: Lewat Djam Malam (1954)

Plot: Seorang pria yang dulunya adalah pejuang kemerdekaan Indonesia, Iskandar (A.N. Alcaff), memutuskan untuk kembali ke 'dunia nyata'; mencoba bekerja untuk menghidupi tunangannya, Norma (Netty Herawati), kelak. Tetapi ternyata tidak mudah bagi Iskandar untuk menyesuaikan hidupnya selepas perang melawan penjajah. Belum lagi kenangan pahit masa lalu bersama rekan-rekan seperjuangannya; Gafar, Gunawan serta Puja, yang terus menghantuinya.

Review: Sebelumnya, mari lah kita sama-sama memberikan ucapan terima kasih kepada Yayasan Konfiden, Kineforum Dewan Kesenian Jakarta, Sinematek Indonesia serta  National Museum of Singapore dan World Cinema Foundation karena berkat kolaborasi pihak-pihak tersebutlah, film klasik Indonesia pemenang Film Terbaik FFI 1955, Lewat Djam Malam, mampu hadir kembali dengan kualitas yang mumpuni. Dan sebelumnya pula, saya hanya ingin menyatakan bahwa sebuah privilege yang luar biasa langka (untuk hitungan di negeri kita ini ya) untuk dapat menyaksikan film klasik ini di layar lebar. Memang masih belum sempurna banget, in terms of picture quality, tetapi mendengar serta melihat before-and-after jelas Lewat Djam Malam versi restorasi ini jauh lebih jernih. Dikenal dengan judul internasional After The Curfew, film hasil restorasi nya pertama kali premiere di Cannes Film Festival 2012 lalu. Dari judulnya, Lewat Djam Malam ini mengacu pada aturan adanya jam malam di beberapa kota di Indonesia dulu pasca kemerdekaan. Seperti yang kita tahu bahwa beberapa tahun setelah Indonesia telah merdeka, bangsa penjajah masih belum mau mengakui berdirinya negara yang semula mereka miliki tersebut. Polisi setempat mencetuskan jam malam, dimana para warga dihimbau untuk tidak berkeliaran setelah jam 10 malam. Film ini disutradarai oleh salah satu sutradara legendaris Indonesia, Usmar Ismail dan ditulis naskahnya oleh Asrul Sani. Selain Film Terbaik, film ini juga menggondol piala citra untuk Naskah, Aktor, Aktris dan Tata Artistik Terbaik. 

Lewat Djam Malam menghadirkan banyak sekali karakter dengan masalahnya masing-masing. Iskandar, seorang pria yang sedang dilanda konflik batin dalam mencoba menjalani hidup normal pasca perang terus dihantui oleh rasa bersalah akibat dirinya pernah menembak mati orang-orang yang dianggap sebagai mata-mata Belanda ketika ia masih menjadi tentara dulu. Lalu Gunawan, mantan kepala satuan Iskandar yang menjadi seorang pengusaha sukses yang mengatasnamakan revolusi untuk memberantas investor asing dan tak ragu bermain kotor dalam dunia ekonomi yang saat itu sedang naik-naiknya. Gafar, yang sama seperti Iskandar, mencoba untuk melupakan kejadian pahit untuk kemudian berhasil move on di dunia nyata. Hingga Puja, seorang yang jelas sekali hanya seorang pengikut. Mulutnya tak segan-segan berbicara provokasi besar-besar, tetapi kemudian bungkam ketika masalah muncul. Mereka berempat yang mantan satu kesatuan pada perang dulu kemudian dipertemukan kembali lewat satu kenyataan yang terkuak. Kehadiran seorang karakter bernama Laila (Dhalia) sebagai seorang 'wanita penghibur' bagi saya menjadi sebuah scene-stealer tersendiri. Laila diceritakan agak sedikit terganggu mentalnya, yang saya asumsikan memang diakibatkan oleh ditinggal pergi suaminya. Pada awalnya mungkin saya juga merasa terganggu dengan kemunculan Laila. Tetapi setiap ia muncul, lewat nyanyian absurd serta hobi nya menggunting barang-barang mewah dari majalah, saya malah melihatnya menjadi sebuah simbol harapan. Yes, she's a bit crazy, and yes, she's a bit naive at times. Tetapi di tengah-tengah masa revolusi serta emosi yang sedang mendidih dari karakter-karater di sekelilingnya, Laila menjadi gambaran seorang yang memiliki mimpi dan harapan even when times get rough. Tidak ada salahnya kan dari bermimpi? Kadang itu yang membedakan kita dengan makhluk lainnya.

Selain drama psikologis tadi, Lewat Djam Malam juga menyelipkan banyak pula tentang masalah-masalah sosial, khususnya tentang kehidupan setelah perang. Tentang bagaimana pandangan masyarakat terhadap 'bekas pejuang', arti dari perjuangan dan perang tersebut serta mimpi-mimpi yang harus dikubur setelah bertemu dengan realita. Iskandar misalnya, ia sebenarnya menginginkan untuk memiliki peternakan dan hidup damai di gunung. Tetapi ia juga ingin membahagiakan sang tunangan dengan cara bekerja dan berpenghasilan. Bagi seorang pria, memiliki pekerjaan yang mapan adalah satu kewajiban mutlak untuk dapat menikah dan berkeluarga. Asrul Sani serta Usmar Ismail dengan begitu piawai meracik hal-hal tersebut ke dalam satu film. Lewat Djam Malam padahal hanya bersetting satu hari di kota Bandung, tetapi banyak aspek yang berhasil di-cover oleh Ismail-Sani disini. Bahkan lewat 24 jam film ini di-set, bagi saya banyak pula yang masih relevan dengan Indonesia sekarang. Kalau ingin membicarakan teknis dan dibandingkan dengan film-film sekarang, entah mengapa saya merasa Lewat Djam Malam tetaplah film yang dibuat dengan sangat baik. Memang ada bagian yang masih terasa kaku dan kasar, tetapi bagi saya tidak begitu menjadi masalah besar, malah bagi saya itu menjadi keunikannya tersendiri. Saya dengan mudah menikmati ritme film ini; dari konflik batin yang ditayangkan sampai adegan-adegan di sepertiga akhir film yang sangat intens. But I do think the party scenes are corny :p tapi mungkin dulu itu cool ya. 

Overview: Lewat Djam Malam is a great story about guilt, dreams, and life after the war. Film ini adalah sebuah film yang dengan brilian menggabungkan konflik setiap tokoh serta selipan-selipan kritik sosial menjadi sebuah kesatuan film yang apik. Penampilan para aktornya walaupun terkadang masih terlihat kaku, tetapi menurut saya mereka telah memberikan performa yang sudah baik. Sisi teknisnya, dengan segala keterbatasan teknologi saat itu, bagi saya malah jauh lebih well-made dibandingkan film-film lokal sekarang. Usmar Ismail berhasil membuat sebuah film yang akan kita kenang sebagai salah satu Indonesian classic yang masih memiliki relevansi walaupun telah bertahun-tahun dirilis. Semoga saja gerakan merestorasi ini bukanlah yang terakhir dan in the future, dapat menghadirkan masterpice-masterpiece Indonesia lainnya.

Lewat Djam Malam - After The Curfew (1954) | Drama | Cast: A.N. Alcaff, Dhalia, Netty Herawati, Bambang Hermanto, R.D. Ismail | Screenplay by: Asrul Sani | Directed by: Usmar Ismail

6 comments:

  1. Oh waaw kapankah film ini mampir di Yogyakarta:(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tunggu aja syid, Jogja kayaknya dapet sih hehd

      Delete
  2. Well deserved! Emang bener, kualitasnya jauh melampaui film2 Indo sekarang. Harusnya tayang juga pas 17 Agustus nih.

    ReplyDelete
  3. download dimana bos?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nonton di bioskop dong :) tapi sayangnya tiap kota hanya dapet giliran seminggu tayang..

      Delete