Tuesday, September 25, 2012

Review: Premium Rush (2012)

Plot: Wilee (Joseph Gordon-Levitt) adalah seorang bike messenger yang sehari-harinya bertugas untuk mengantar barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan sepeda. Suatu hari, Wilee mendapat tugas untuk mengantar sebuah amplop yang diberikan oleh Nima (Jamie Chung) untuk diantar  ke seorang bernama Sister Chen di daerah Chinatown. Pekerjaan yang sepertinya sangat mudah tersebut nyatanya menjadi sulit ketika Wilee mulai dikejar-kejar seorang pria, Bobby Monday (Michael Shannon) yang secara misterius sangat menginginkan amplop tersebut.

Review: Sebagai seorang penulis naskah, nama David Koepp mungkin bisa menjadi jaminan kesuksesan box office. Berkat kerja sama nya bersama sutradara legendaris Steven Spielberg, Koepp telah menelurkan judul-judul seperti Jurassic Park (1993) dan sekuel pertamanya (1997), War of the Worlds (2005) serta seri ke-4 dari Indiana Jones; Kingdom of the Cyrstal Skull (2008). Judul-judul lain termasuk film layar lebar pertama Mission: Impossible (1996), Panic Room (2002), hingga Angels & Demons (2009). Koepp pun tidak mau kalah dan beberapa kali mencoba untuk menyutradarai film-filmnya sendiri. Sayangya, film-filmnya, seperti Stir of Echoes (1999) atau Secret Window (2004),  justru tidak begitu mendapat sambutan yang meriah layaknya film-film yang ia tulis naskahnya. Tahun ini, Koepp kembali mencoba peruntungannya lewat film Premium Rush, yang ia tulis sekaligus sutradarai. Tema nya cukup unik, tentang seorang bike messenger yang hendak mengantarkan sebuah paket yang ternyata memiliki rahasia gelap dibaliknya. Walaupun dalam zaman teknologi seperti ini, bike messenger nyatanya bisa menjadi sesuatu yang cukup diperhitungkan melihat kepadatan jalan raya Manhattan (but I challenge you to ride around Jakarta, Wilee :p). Berbeda dengan tokoh kartun Wile E. Coyote yang sempat dibahas disini, Wilee, sang kurir sepeda, malah bertingkah layaknya sang musuh, Road Runner. Wilee bisa dibilang adalah seorang adrenaline junkie. He loves to ride with no brakes. Brakes are death, katanya. Kebenciannya dengan pekerjaan formal juga membuatnya menikmati pekerjaannya sebagai kurir sepeda. Wilee memiliki seorang teman dekat wanita bernama Vanessa (Dania Ramirez) yang diceritakan pernah memiliki hubungan dekat, walaupun Vanessa mulai menjauh karena sifat Wilee yang begitu 'berani-mati'. Lewat sebuah amplop yang diberikan oleh Nima tersebut, mulailah petualangan Wilee yang terus dikejar oleh pria misterius yang ujung-ujungnya mengancam nyawanya.

Kalau saya menilai dari ceritanya, Premium Rush sebenarnya memiliki cerita yang mudah dimengerti. Walaupun gaya penceritaannya mengadaptasi teknik yang mirip dengan Rashomon (1950), Memento (2000) atau yang lebih terkenal lagi Vantage Point (2008), Premium Rush itu predictable since the get-go. Yang saya masuk dengan teknik di atas adalah Premium Rush di paruh awal bercerita dengan gaya flashback dan lompat melompat dari satu timeline ke timeline lain. Lewat situ, kita akan diajak melihat sebab dari beberapa akibat dan beberapa twist kecil yang menjadi jawaban dari adegan-adegan sebelumnya. Walaupun secara garis besar ceritanya menurut saya tidak begitu masalah, ada beberapa masalah yang saya punya dalam detilnya. Sulit kalau saya menyebutkan satu-satu (the scene where Monday threatened Nima in the gym, really? there? or even when Wilee had the guts to go to the police station while he's being chased by a police officer too!). Hal tersebut, serta ceritanya yang klise, membuat Premium Rush terlihat hanya seperti sebuah episode serial televisi yang diperpanjang. Belum lagi ending ceritanya yang antiklimaks dan kurang nendang. Penampilan para aktor juga tidak bisa dibilang spesial-spesial banget. But kudos to Michael Shannon, peran antagonisnya menurut saya mampu membuat film ini menjadi lebih menarik. Premium Rush tentu juga punya kelebihan lain yang membuat saya tahan menonton film ini midnight kemarin. In short, this film was intense. Disini kita akan melihat Joseph Gordon-Levitt dan rekan-rekannya mengarungi kepadatan jalan di Manhattan dengan sepeda. Aksi meliuk-liuk antara mobil-mobil di jalan yang begitu crowded dibarengi juga dengan gimmick map animasi yang boleh lah menjadi sebuah guide tersendiri untuk Manhattan. Lewat stunt-stunt tersebut (Levitt bahkan sempat mengalami kecelakaan yang menyebabkan tangannya harus dijahit), Premium Rush bagi saya mampu menjaga tingkat keseruan dengan cukup baik.

Overview: Walaupun memiliki cerita yang predictable dan memiliki beberapa plot holes mengganggu, Premium Rush menyeimbangkannya dengan beberapa chase-scenes sepeda yang intense. Dengan gaya bercerita yang dibuat sedemikan intriguing (walaupun jelas bukan hal yang baru) dan gimmick yang hip dan youthful, Premium Rush menjadi sebuah hiburan tersendiri. Memang bukan sebuah film yang spektakuler atau bagi saya memorable, tetapi tema uniknya yang jarang dibahas serta cool stunts nya membuat saya cukup menikmati film ini. It's no by any means a masterpiece, but if you want to, go watch it, ignore a few of script problems and just enjoy the ride.

Premium Rush (2012) | Action, Thriller | Rated PG-13 for some violence, intense action sequences and language | Cast: Joseph Gordon-Levitt, Michael Shannon, Dania Ramirez, Wolé Parks, Aasif Mandvi, Jamie Chung | Written by: David Koepp, John Kamps | Directed by David Koepp

2 comments:

  1. Setuju nih. Ga spesial banget tapi fun aja gitu. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iyaa, cocok lah buat hiburan :)

      Delete