Friday, January 27, 2012

Review: The Girl with the Dragon Tattoo (2011)

Plot: Mikael Blomkvist (Daniel Craig), seorang jurnalis majalah Millenium tersandung kasus pencemaran nama baik yang hampir saja menghancurkan karirnya. Ia tiba-tiba di-rekrut oleh seorang mantan petinggi perusahaan ternama Vanger Industries, Henrik Vanger (Christopher Plummer). Henrik meminta bantuan Mikael untuk memecahkan kasus hilangnya keponakannya, Harriet, yang telah menghilang tanpa jejak selama hampir 40 tahun, dengan imbalan uang berlimpah serta sesuatu yang mampu membersihkan nama Mikael dari kasus yang menimpanya. Henrik ingin Mikael untuk menginvestigasi keluarga Vanger yang Henrik percaya bahwa salah satu dari mereka membunuh Harriet. Mikael tanpa sengaja mengetahui keberadaan Lisbeth Salander (Rooney Mara), hacker eksentrik yang jenius, yang sebelumnya mengerjakan background check untuk Mikael. Merasa kesulitan, Mikael pun akhirnya meminta bantuan Salander untuk memecahkan kasus hilangnya Harriet tersebut.

Review: David Fincher, for me, is one of the greatest filmmakers in our time. Kepekaannya terhadap sisi artistik dalam film-filmnya benar-benar menunjukkan bahwa dirinya adalah sutradara dengan taste yang tinggi. Lihat bagaimana film dengan cerita yang cenderung 'biasa' seperti The Curious Case of Benjamin Button atau naskah brilian dengan dialog cepat a la The Social Network ia kemas dengan begitu sophisticated, technical-wise. Entah mengapa sepertinya ia kurang begitu 'dilirik' oleh para kolega nya yang tergabung dalam Academy. When Slumdog Millionaire took the glory at the Oscar a few years back, I'm still okay with that. But when it snatched Cinematography and Score from Benjamin Button was beyond me. And don't let me start with The Social Network fiesta again, it's a masterpiece in filmmaking, not even a King can't deny that. Hanya berselang setahun dari film terakhirnya, The Social Network, Fincher kemudian diutus untuk membuat adaptasi novel laris dari Swedia, apa lagi kalau bukan The Girl with the Dragon Tattoo. Dalam The Girl with the Dragon Tattoo, Fincher lagi-lagi membawa sense of art tinggi yang menurut saya menyelamatkan film ini.

The Girl with the Dragon Tattoo versi US ini digadang-gadang akan lebih setia pada buku karya Stieg Larsson tersebut. Jujur saja, saya sih belum membaca seri pertama dari Millenium Trilogy tersebut. Jadi saya tidak bisa begitu menilai dari segi 'kesetiaan' (udah kaya sinetron aja -,-). Naskah hasil adaptasi ini digarap oleh Steve Zailian, yang tahun ini juga bersama-sama Aaron Sorkin menulis naskah Moneyball. Disini saya akan menilai dan membandingkan cerita dari film Swedia vs. US saja kalau begitu. Hasilnya? Menurut sepenangkapan saya, tidak ada perubahan yang begitu berarti. Apa memang saya yang kurang menangkap ya? Hmm tapi ya sejauh yang saya perhatikan, inti cerita dan beberapa poin vital masih sama saja kalau saya bandingkan. Saya akui versi US ini menambahkan beberapa adegan yang tidak ada di versi originalnya. Tapi kok saya tidak begitu menganggap adegan-adegan itu crucial ya? Jadi ya menurut saya, dari segi cerita, tidak ada perubahan yang begitu signifkan. Mungkin karena saya juga sudah menyaksikan film aslinya, element of surprise dan intrigue nya pada saat menonton versi US tidak lah sekuat ketika menonton film originalnya. But lucky for them, saya terlalu suka dengan cerita ini so I don't even mind. Told you that I dig detective stories! Dan menurut saya cerita asli The Girl with the Dragon Tattoo itu sangat seru untuk diikuti.

Another mixed feeling I have is about Rooney Mara. Setelah mencuri perhatian lewat opening The Social Network yang mesmerizing itu, Fincher memilihnya untuk berperan sebagai karakter yang sedikit kontroversial ini. Lisbeth Salander adalah salah satu tokoh heroine yang menurut saya yang paling kick-ass. Saya masih terbayang bagaimana Noomi Rapace menggambarkan Salander sebagai karakter yang kuat, intimidating, tapi rapuh. A great performance. Rooney Mara? Well, saya tidak mengatakan aktingnya buruk. Saya memuji keberaniannya dan usahanya untuk menghidupkan Salander 'versi Amerika'. It's not a bad result after all. Tetapi menurut saya, Mara agak terasa 'overshadowed' oleh Rapace. Mara terlihat berusaha 'terlalu' keras untuk menandingi atau at least menyamai kualitas akting Rapace sebagai Salander. It's not Mara's fault anyway, Noomi Rapace bagi saya sudah menorehkan penampilan yang iconic. Jadi dalam pandangan saya, cukup sulit untuk ditandingi. Dan satu kekurangan Mara; ia tidak membuat saya simpati dengan karakter Salander, tidak seperti Rapace yang membuat saya bahkan bertepuk tangan setelah adegan 'balas dendam' pada guardian-nya yang fenomenal itu. As for other actors, saya tidak begitu terpukau dengan aktor yang memerankan Mikhel Blomkvist sang protagonis di film Swedia-nya, dan so-so juga sama Daniel Craig. Lainnya? Yaah not bad laaah. Film ini memang 'hanya' milik Blomkvist dan Salander sih.

Seperti yang saya bilang di awal, Fincher is a fine craftmanship. Sutradara yang dikenal dengan 'beribu-ribu take' nya ini (the infamous opening of Social Network took 99 takes for him to consider it done) memang tidak mau kompromi dengan masalah art dengan filmnya. Makanya terkadang banyak filmnya yang difitnah (haha I have to use that word) sebagai film yang style-over-substance. Contohnya Fight Club dan Benjamin Button itu. Dan menurut saya sih, Dragon Tattoo hampir saja menyentuh zona tersebut. Alasan pertama: karena adegan terbaik dari Dragon Tattoo adalah opening creditnya yang menurut saya (I'm not exaggerating) one of the coolest opening credits ever. Dark, disturbing, artsy. Nice. Lihat pula editingnya yang juga dinamis, cinematography nya yang juga keren, dan score nya yang haunting. Those 3 deparments were handled by the same people worked in The Social Network, by the way. Kirk Baxter dan Angus Wall di editing, Jeff Cronenweth di Cinematography dan Trent Reznor dan Aticus Ross di divisi score. Dua dari divisi tersebut mendapatkan nominasi Oscar tahun ini, begitu juga dengan Sound Mixing dan Sound Editingnya, dengan pengecualian Original Score. Menurut saya sih exclusion mereka ini tidak begitu 'snub', karena saya merasa score yang mereka buat untuk Dragon Tattoo terdengar too 'Social-Network-y'. Walaupun agak berbeda, tetapi masih terdengar sejenis dengan (an Oscar winning) score yang mereka buat untuk The Social Network.

Overview: Sebenarnya saya masih agak bingung mengapa Hollywood perlu me-remake ulang film asal Swedia ini. Menurut saya, cerita yang katanya lebih setia benar-benar mengadaptasi dari novelnya ini (dibanding dengan film versi Swedia nya), hasilnya tidak jauh berbeda. Ada beberapa tambahan tentunya, tetapi menurut saya gak begitu banyak dan signifikan. Kalaupun ada, jujur agak terganggu dengan beberapa hal yang terlalu bertele-tele. Tetapi satu alasan yang kuat mengapa remake ini dibuat adalah tangan handal Fincher dengan taste sinematik yang tinggi membuat film ini dikemas dengan sisi teknis yang sangatlah lebih superior dari versi originalnya. Penampilan para aktor yang baik (belum sempurna, tetapi masih bagus) juga untungnya tidak mempermalukan film ini. Rooney's good, but not that great dan belum bisa menggantikan Noomi Rapace sebagai sosok Lisbeth Salander. Nevertheless, Dragon Tattoo is still a great detective story with a nicely-made presentation. Not a masterpiece, but still a great film. One more, if you haven't seen the original, just a word of warning: it's a bit graphic.

[B]
The Girl with the Dragon Tattoo (2011) |Crime, Drama, Mystery, Thriller | Rated R for brutal violent content including rape and torture, strong sexuality, graphic nudity, and language | Cast: Daniel Craig, Rooney Mara, Christopher, Stellan Skarsgård, Robin Wright, Steven Berkoff, Geraldine James, Yorick van Wageningen, Joely Richardson, Goran Višnjić | Written by: Stieg Larsson (novel), Steve Zailian (screenplay) | Directed by: David Fincher

7 comments:

  1. Kalo gasalah Dragon Tattoo ini sama sekali bukan remake melainkan adaptasi langsung dari novel. Kalo yg udah baca novelnya, dan buat gw, terus terang gw sedikit lebih suka sama yg US. Walaupun, well, Noomi Rapace emg sedikit lebih baik dibanding Mara (Mara agak kaku di 1jam pertama). Tapi buat gw, Mara ga se-overrated yg org cap, walaupun awalnya gw juga rada pesimis. Susah buat gw kalo mau milih mana yg better. Bukannya mau 'sok' ngejadiin semua film Fincher jd pilihan gw, tapi me personally I love the US much more.

    ReplyDelete
  2. Kalo menurut gw sih ya itungannya tetep aja remake udah pernah dibuat dan dibuat ulang kan hehe gw jg rada bingung sebenernya kalo nentuin yg mana yg lebih bagus, inti ceritanya sama aja (yg ditambah jg gak begitu penting2 amat kayaknya), cuman versi US lebih baik di sisi teknis. Tapi pas nntn versi US gw ngerasa gak se-excited pas nntn yg original, jadi kalo dinilai dari 'kepuasan menonton' gw lebih milih versi Swedia-nya.

    ReplyDelete
  3. i'm not Fincher's big fans but jujur sy lebih suka Fincher yg mendirect film ini, tah tipikal cinematasted nya dy yg unggul dri segi artistik dan editing....naskah ya tidak jauh berubah..namun memang pesona Rapace masih unggul dan sy setuju bhwa Mara mski dy bagus dan total tp tetap msih terbayang2 rapace, setuju memang terlalu overated menilainya, tp sy salud atas kerja kerasnya, i give B+ for this film

    ReplyDelete
  4. satu lagi setuju bgt dgn komen Fariz yg US ini unggul di teknisnya dan beruntungnya disutradarai Fincher, tp emang nafas kehebatan versi orijinalnya masih membayang,

    ReplyDelete
  5. Ah ditonton juga toh ;)
    Saya menghindari remake sih...jadi sebagus apapun kata orang,malas ajanontonnya...cerita sama dan yang originaljuga dah top abis.

    > Sebenarnya saya masih agak bingung mengapa Hollywood perlu me-remake ulang film asal Swedia ini. Menurut saya, cerita yang katanya lebih setia benar-benar mengadaptasi dari novelnya ini (dibanding dengan film versi Swedia nya), hasilnya tidak jauh berbeda < tambah ga pengen nntn ;)

    ReplyDelete
  6. @andyputera: iya memang bli, film ini menurut saya jadi bagus gara2 faktor Fincher, kalo versi US bukan dia yg bikin pasti bakal jadi bosenin parah

    ReplyDelete
  7. @novroz: iya, Miss. secara cerita sih menurut saya sama aja, jadi pas nntn gak begitu tertarik sama ceritanya (soalnya udah ketebak)hehe

    ReplyDelete