Monday, May 20, 2013

Review: Side Effects (2013)

Steven Soderbergh sepertinya sudah membicarakan rencananya untuk pensiun berkali-kali. Sutradara dengan filmography yang sangat beragam ini (mulai dari blockbuster penuh bintang A-list, hingga film indie micro-budget) nyatanya masih selalu gatal menghasilkan karya baru. Rasanya kita tidak akan pernah tahu hingga waktu dimana ia benar-benar mengkonfirmasikan informasi tersebut dan tidak memiliki proyek-proyek baru lagi. Jikalau pun Soderbergh benar-benar akan berhenti membuat film, rasanya film terakhirnya, Side Effects, adalah ending yang cukup memuaskan (it's not his officially last film, but more on that later).

Side Effects adalah salah satu contoh film yang sepertinya saya tidak sarankan untuk membaca reviewnya. Bukannya saya melarang membaca review saya ini lho hehe feel free to read ahead, cause I'm trying so hard not to spoil the good stuff. Tema yang diangkat Side Effects sepertinya sama dengan hal apa yang kalian tangkap ketika mendengar kata efek samping. Side Effects memang mengingatkan saya dengan film-film karya Hitchcock, dimana cerita di awal akan dengan mudah atau mengejutkan berpindah haluan menjadi sebuah cerita yang berbeda. Not in a bad way.  Contohnya adalah di bagian awal, Side Effects terlihat seperti sebuah cautionary tale terhadap konsumsi obat over-the-counter yang biasanya memang dimulai dari rasa tidak puas atau tidak cocok dengan satu obat, lalu diganti ke obat lain berkat resep dokter atau saran dari teman, lalu dikombinasikan dengan obat lain lagi, dll. Itulah yang dialami oleh Emily Taylor (Rooney Mara). Emily adalah seorang wanita yang gemar mengalami depresi. Mungkin itu juga dipengaruhi oleh nasib sang suami yang sudah 4 tahun ini mendekap di penjara akibat insider trading. Ketika sang suami, Martin (Channing Tatum) sudah keluar pun rasanya Emily masih sering merasakan hal yang sama. Emily berkonsultasi dengan seorang dokter psikiatri, Jonathan Banks (Jude Law) setelah dirinya mengalami episode depresi yang membuatnya mengarah pada tindakan suicidal. Obat-obat yang diberikan oleh Jonathan tidak membuat Emily sembuh. Setelah berkonsultasi juga dengan psikiaternya terdahulu, Victoria Siebert (Catherine Zeta Jones), Emily pun akhirnya diberikan resep obat bernama Ablixa, which comes with its own side effects. 

Bagaimana alur cerita yang disiapkan dari menit pertama oleh naskah tulisan Scott Z Burns ini seolah sudah mempersiapkan saya dengan sebuah drama meja hijau tentang dunia farmasi dan sebagainya. Sebagai mahasiswa calon tenaga medis, saya sudah sering mendengar serta memperhatikan tentang nasihat-nasihat dari dosen saya terhadap promotor obat, but I won't bore you with that. And then, Boom, unexpected things happen. Cerita menjadi agak lebih gelap setelah efek samping yang tidak diinginkan dari obat yang dikonsumsi Emily malah berujung maut. Film ini pun memberikan twist yang cukup berani di pertengahan film. And the twists did not stop there. Film ini akan mengajak kita ke sebuah roller coaster dimana apa yang kita lihat di awal mungkin bukanlah hal yang sebenarnya terjadi. Tak hanya dari poin cerita dan atmosfirnya juga, tetapi bagaimana 'korban' dalam film ini pun turut berganti. At one point, one person is the victim, then a minute after that we learn that it's the other way around. Soderberg dan Burns dengan lihai membuat karakter-karakter dalam film ini tidak menjadi karakter yang one-dimensional. Kita tidak dibuat benar-benar mengenal secara detail masing-masing karakter, hanya segelintir trivia tentang kehidupan dan orang-orang di sekelilingnya saja. For instance, Emily dan dr Jonathan, di balik status dan nasibnya ini sebenarnya secara sekilas memiliki karakter yang sama, bagaimana keduanya memiliki long for status or bigger things. Dan bagaimana mereka akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya (kembali).

Mungkin Side Effects bisa terlihat menjadi sebuah film yang menipu. Dengan banyaknya belokan yang dilewati, saya agak kewalahan menerima twist demi twist tersebut. Honestly, it makes a great cat-and-mouse mystery plot, tidak membuat film ini gampang ditebak dan begitu saja diselesaikan dengan cepat. But confusing and overstuffed are also the other ways to look at it. That being said, masterplan yang terungkap di akhir kisah entah kenapa agak terasa terlalu dangkal dan kurang developed. Konklusinya terasa terlalu buru-buru dibuat, padahal di awal sudah ditulis dengan baik. Walaupun begitu, saya masih merasa film ini diselamatkan dengan konstruksi kisah di awal yang terjalin rapi yang membuat saya betah menebak-nebak akhir dari misteri yang menimpa orang-orang ini, walaupun saya tidak begitu suka dengan konklusinya. Begitu juga dengan akting para pemain. Sebagai seorang yang mengalami depresi, Rooney Mara cukup baik menggambarkan karakter Emily. Tatapan mata dan gesture-nya tampak genuinely vulnerable. Saya suka dengan karakter kuat yang ia tampilkan dalam The Social Network yang sayangnya kurang waktu tampil, tetapi saya lebih memilih Noomi Rapace ketimbang Mara untuk memerankan Lisbeth Salander. Jadi memerankan Emily bagi saya seakan revelation yang membuat saya yakin dengan karir akting Mara ke depan. Jude Law is another highlight from this film dan sangat patut diberi apresiasi, mengingat hampir sepanjang film karakternya lah yang mengendarai roller coaster tersebut.  Hal yang tidak bisa dikatakan kepada karakter Channing Tatum yang rasanya seperti pelengkap saja, serta Catherine Zeta-Jones yang...walaupun memang karakter penting, tetapi rasanya kok tidak begitu memorable.

Side Effects bisa saja menjadi film bioskop terakhir Soderbergh. Walaupun sebenarnya Soderbergh masih memiliki 'amunisi' cadangan lewat film televisi Behind the Candelabra untuk HBO yang bahkan masuk kompetisi Cannes tahun ini. Suasana yang diciptakan oleh Soderberg dalam film ini mengingatkan saya dengan Contagion, filmnya tahun lalu. Dengan tone warna yang breezy, plus score yang juga mendukung, ditambah dengan tema praktik farmasi di dalamnya membuat film ini jadi mirip satu sama lain (minus star-studded cast). Soderberg juga masih bermain dengan tema 'financial and the big company' lewat film ini, seperti dalam Erin Brockovich atau Magic Mike. Tetapi dalam Side Effects, Soderbergh memang tidak terlihat memiliki agenda politis. Walaupun di awalnya terasa seperti itu, tetapi pada akhirnya Side Effects menjadi sebuah film misteri klasik tentang ketergantungan dan keserakahan. Memang memiliki twist yang berliku, tetapi dengan hal itu Side Effects memberikan pengalaman menonton a la detektif yang cukup seru. Kalaupun ini adalah film terakhir di karir Soderbergh, he end it with a good one.
________________________________________________________________________________

Side Effects (2013) | United States | 106 minutes | Crime, Drama, Thriller | Rated R for sexuality, nudity, violence and language | Cast: Jude Law, Rooney Mara, Catherine Zeta-Jones, Channing Tatum, Vinessa Shaw, Ann Dowd | Written by: Scott Z. Burns | Directed by: Steven Soderbergh

6 comments:

  1. whoa keren reviewnya, jadi penasaran :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks :D filmnya jg lumayan kok buat ditonton!

      Delete
  2. Suka bgt sama rooney mara disini. I really like all your review, well done, you are doing a great job!

    ReplyDelete
  3. wow, ada Channing Tatum, setelah dikecewakan G.I Joe Retaliation (taulah kenapa kecewa, apalagi soal Tatum), semoga ni film ngga ngecewain, entah dari segi cerita ataupun Tatum-nya xD
    BTW thanks review-nya gan ... keren ... :thumbsup:

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kalo mau nntn film ini karena Channing Tatum....siap2 kecewa hehe #nospoiler

      Delete