Friday, May 3, 2013

Review: What They Don't Talk About When They Talk About Love (2013)

Plot: Diana memiliki kondisi dimana dirinya hanya bisa melihat sekelilingnya dengan jarak dekat. Hal tersebut sebenarnya lebih baik dari Fitri, yang benar-benar tidak bisa melihat. Mereka adalah teman sekelas di sebuah sekolah luar biasa untuk anak-anak tuna netra. Diana mulai merasa tertarik dengan teman sekelasnya, Andhika. Sedangkan Fitri tiap malam berinteraksi dengan seorang 'hantu dokter' yang ternyata adalah anak penjaga warung, Edo.

Review: What They Don't Talk About When They Talk About Love adalah film feature kedua dari Mouly Surya, yang beberapa tahun lalu memenangkan Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia lewat film debutnya, Fiksi, di tahun 2008 (yang juga menang Film Terbaik). Don't Talk Love (judul pendeknya, fiuuh untung saja haha), sudah memberikan buzz yang besar setelah terpilih dan menjadi film Indonesia pertama yang berkesempatan berkompetisi dalam festival film indie terbesar di dunia, Sundance Film Festival. Don't Talk Love bercerita tentang mimpi dan kehidupan remaja-remaja manis nan lugu; ada yang jatuh cinta, ada yang ingin meraih mimpi. Just like normal teenagers, yang berbeda adalah bahwa mereka memiliki keterbatasan fisik. Diana (Karina Salim) adalah seorang penderita low vision, yang membuatnya hanya bisa melihat benda-benda sekelilingnya dengan jarak yang (sangat) dekat. Diana merasa tertarik dengan salah satu teman sekelasnya di sekolah khusus tuna netra tempat mereka belajar, Andhika (Anggun Priambodo). Sedangkan, teman dekat Diana, Fitri (Ayushita), bermimpi untuk menjadi orang terkenal, yang sayangnya dimanfaatkan oleh pacarnya (Khiva Iskak) yang menginginkan tubuh Fitri. Fitri yang memang percaya dengan hal-hal berbau supranatural ini tiap malam terlibat sebuah 'affair' dengan 'hantu dokter' di kolam renang sekolahnya, yang ternyata adalah seorang anak dari penjaga warung yang juga adalah seorang tuna rungu bernama Edo (Nicholas Saputra

Don't Talk Love jelas menjadi sebuah sajian alternatif yang menjadi sesuatu yang berbeda dalam dunia perfilman Indonesia. Mungkin bukan barang baru (mungkin karena saya juga jarang menonton film Indonesia, sorry :p), tetapi ini tetap menjadi sebuah bold decision bagi Mouly Surya untuk membuat film ini. Lewat premisnya yang sederhana dan terkesan seperti sebuah kisah cinta remaja biasa, Don't Talk Love berujung menjadi sebuah film yang cukup eksperimental dan tidak melodramatis. Film ini dibuka dengan sebuah scene 'musical' dimana anak-anak sekolah luar biasa tersebut menyanyikan lagu Burung Camar. If I'm not mistaken, Mouly Surya (atau orang lain ya? lupa) pernah menyatakan bahwa adegan tersebut adalah adegan yang paling ia  sukai, dan saya setuju. It's a beautiful scene and really sets the atmosphere from the get-go. Kemudian film mulai membawa kita ke dalam kehidupan seorang Diana dan Fitri, yang sebenarnya tak jauh beda dengan remaja-remaja kebanyakan. Karina Salim dan Ayushita  berhasil memberikan sebuah performa yang sangat baik sebagai visually disabled persons. Setiap emosi yang mereka keluarkan terasa begitu sincere dan natural. Dapat dilihat jelas bagaimana mereka benar-benar mempersiapkan akting mereka dengan persiapan yang dalam. Begitu pula dengan Nicholas Saputra yang berperan sebagai Edo yang tuna rungu. Dibalik gerak-geriknya yang sangar dan jahil (dan kondisinya), tersimpan sebuah hasrat untuk dapat dimengerti, layaknya Fitri, dan juga Diana.


Selain beberapa karakter utama, hampir semua figuran dalam film ini adalah anak-anak yang memang tuna netra di dunia nyata. Mungkin pada awalnya saya merasa anak-anak tersebut seperti menjadi sumber eksploitasi, tetapi Mouly dengan berhasil memberikan sisi humanisme pada penderita disability tersebut. Ia tidak menampilkan scene-scene lebay menguras air mata yang memperlihatkan kekurangan mereka. Salah satunya adalah lewat scene tanpa ada audible sound, seakan kita sebagai penonton dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi Edo. Di pertengahan film, ada sebuah scene yang membingungkan saya pada awalnya. Tetapi, setelah saya telaah lebih dalam, akhirnya saya mengerti. Saya melihat sequence yang mempertemukan karakter-karakter tadi di sebuah mini market tersebut sebagai sebuah alternate universe, dimana karakter-karakter yang tadinya 'cacat' menjadi normal, and vice versa. Sequence tersebut sepertinya dimaksudkan oleh Mouly Surya untuk memberikan kita gambaran bahwa karakter-karakter tadi sebenarnya tak jauh beda dengan orang-orang 'normal'. Yang mereka rasakan sama, yang mereka inginkan sama, yang mereka impikan juga sama. Yang membuat beda adalah fisik mereka saja. Memang sebuah punchline yang simple tetapi dituturkan dengan cukup menohok. You'll understand after you watch it.

Dengan sajian yang sepertinya bukan untuk semua orang, Don't Talk Love memang menuturkan kisahnya dengan pace yang lambat. Banyak scene minim (atau bahkan tanpa) dialog, ditambah dengan beberapa scene mundane yang serasa terlalu panjang. Scene ketika Diana menyisir rambut sampai 100, for instance. Mungkin maksudnya untuk memperlihatkan juga bagaimana keseharian teman-teman Diana bersiap-siap diri, tetapi tidak perlu mulai dari hitungan ke-75 juga sih hehe at least gak mulai dari 0. Beberapa transisi antara satu storyline ke yang lain terkadang terlalu 'random' dan sedikit membingungkan. Ya seperti scene di Sevel itu tadi, dan berimbas pada storyline gadis bernama Maya (Lupita Jupiter), yang awalnya jadi kembang desa bergaya borjus (makan rainbow cake di warung, oh God, so hipster!), tiba-tiba jadi tuna netra yang sedang audisi. Great message, tetapi seakan datang tiba-tiba. Setengah jam awal film ini juga bagi saya berjalan monoton. Kisah perjalanan Diana menuju womanhood dan jatuh cinta dengan teman sekelasnya mungkin manis, tapi presentasinya masih kurang menarik dan memang butuh extra perhatian untuk bisa bertahan. Tetapi untungnya, ketika kisah Fitri dan Edo mulai menjadi fokus cerita, this film stepped it up a notch, big time. Dan semakin lama film ini berjalan, pesan film ini pun semakin jelas. Dan untungnya, gambar-gambar cantik, dibalut dengan musik yang tak kalah manis dan syahdu turut mengiringi film ini. Those complemented the already poetic vibe this film brought to the table.

Overview: Sebuah film yang manis dengan kisah yang sederhana dan menyentuh. What They Don't Talk About When They Talk About Love adalah sebuah film yang berani. Berani dalam memberikan sebuah sajian puitis, tidak biasa dan unik. Berani juga dalam menyuguhkan kisah cinta dan cita para penyadang cacat tanpa perlu mewek-mewekan. Memang akan menjadi sebuah film yang cukup challenging, apalagi untuk penonton awam. Ada beberapa hal yang akan membuat penonton perlu niat kuat untuk bisa bertahan sampai akhir. Tetapi film karya Mouly Surya ini sayang jika dilewatkan. Dengan pesan yang tepat sasaran, akting memukau, tata gambar dan musik yang ciamik, Don't Talk Love menjadi sebuah sajian alternatif yang patut dicicipi.

What They Don't Talk About When They Talk About Love (Yang tidak dibicarakan ketika membicarakan cinta / Don't Talk Love - 2013) | Indonesia | Drama, Romance | Cast: Karina Salim, Ayushita, Nicholas Saputra, Anggun Priambodo, Lupita Jupiter, Khiva Iskak, Jajang C. Noer | Written and directed by: Mouly Surya

6 comments:

  1. Kalo yang tentang sevel itu untunglah gua ngerti, haha. Tapi sampe sekarang gua masih ga ngerti tentang Maya, tadi Mouly Surya sempat ngetwit katanya penjelasan kunci tentang Maya ada di video yang ditonton Edo. Nah makin bingung lah gua -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Storyline Maya itu emang gw rasa kurang developed.. Video yg ditonton Edo itu yg Midsummer Night's Dream yaa? Hmm kok gw jd bingung jg haha mungkin maksudnya dia mau jadi artis kaliii *nebak*

      Delete
  2. Kalo buat saya sih, adegan di sevel dan di kos2an itu udah menjadi akhir dari film ini sendiri, bukan alternate universe, sementara adegan prom night di akhir itu masih di pertengahan film. Ceritanya jadi non-linear gimana gitu, dimana si Edo dan Fitri goes on sama kehidupan cinta mereka, sementara Diana dan Andhika pisah karena mereka udah ga bisa bersatu lagi (mengingat Diana matanya sudah agak sembuh dan Andhika itu matanya hilang2 kemana2, juga emaknya Diana sendiri yang gak mungkin ngerestuin hubngan Andhika dan Diana) itu juga dibuktikan lewat mata nanar Diana yang kosong melompong pas di Sevel imo, cuman masih agak bingung kenapa si Edo bisa lancar ngomong pas se-kos sama Fitri. Mungkin film ini emang open intrepertation kali ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi semalem kebetulan mbak Mouly Surya jg ngomong kok di Twitter kalo itu emang alternate universe, dan filmnya gak non-linear, cmiiw. Knp si Diana tatapannya kosong gitu, menurut saya sih karena ya itu tadi, alternate universe itu mau membuktikan bahwa Diana 'cacat' dan Diana 'normal' tuh sama aja; mereka masih ngerasa sendirian (gak ada temen pas latian ballet, dan ngerasa ibunya distant bgt sama dia). Edo di alternate universe jg seinget saya ngomong kok; coba kalo dia tuli, dia gak usah dengerin si Fitri ngomong terus. And then, si Fitri ngomong kalo cewek suka ama apa yg ia denger (atau baca) dan cowok seneng sama apa yg ia liat. Sama kasusnya kan sama Edo dan Fitri yang di SLB? Just my 2 cents :)

      Delete
  3. halo!
    boleh tukar link blog?
    saya baru di movie review blog
    lessthan2000.blogspot.com
    salam kenal dan terima kasih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo juga! Sudah saya link yaa, salam kenal jg :)

      Delete