Thursday, March 10, 2011

Review: Waiting For 'Superman' (2010)

Plot: Waiting For "Superman" adalah sebuah dokumenter yang bercerita mengenai sistem pendidikan di negara Amerika Serikat serta diselingi oleh pemaparan kisah nyata dimana nasib beberapa orang anak disana yang ingin meneruskan studinya ke jenjang yang lebih tinggi harus ditentukan dengan undian.

Review: Ketika nominasi Best Documentary Feature Film dalam perhelatan Academy Awards kemarin dibacakan, ada satu judul yang entah mengapa terluput perhatian, tak lain dan tak bukan; Waiting For 'Superman' (WFS). WFS padahal telah memiliki gaung yang lumayan besar sebelum acara tersebut digelar. Film ini juga sempat menjadi opening film sekaligus pembuka Jakarta International Film Festival (JIFFest) 2010 lalu. Bukan bermaksud merendahkan nominasi lain (dan karena memang belom ada satupun yang gw tonton), gw merasa bahwa WFS sangat patut, at least, untuk berada di dalam jajaran nominasi tersebut. Walaupun 'Inside Job' terasa lebih fresh, nyatanya isu yang diangkat oleh WFS sudah menjadi masalah sejak lama tapi hingga kini pun sama sekali belum ada jalan keluar yang sukses. Padahal mengenai isu yang diangkat oleh WFS lah yang akan melahirkan generasi-generasi mendatang. Pada anak-anak inilah (dan termasuk gw, serta kita semua) yang kelak akan menjadi pemimpin bangsa.

Dibawakan oleh orang dibalik dokumenter 'An Inconvenient Truth', WFS bertema tentang sistem pendidikan di USA. Dari luar, Amerika hingga kini masih bisa dibilang sebagai negara superpower. Bahkan di negara se-adidaya Amerika saja, ternyata sistem pendidikannya masih kurang sempurna (kalo gak mau dibilang jelek). Bahkan sudah sering presiden-presiden dalam kampanye nya menyuarakan dan menggembar-gemborkan kenaikan kualitas pendidikan, yang nyatanya hingga saat ini pun, berdasarkan data yang ditampilkan, tidak ada perubahan yang signifikan, bahkan cenderung stagnan. Amerika sendiri ternyata dalam hal matematika dan ilmu alam masih dibawah bayang-bayang sejumlah negara-negara berkembang. Uniknya ketika melihat hasil survey beberapa negara untuk ke-proficiency math & science murid-murid Amerika memiliki jumlah yang sangat kecil. Tetapi ketika murid-murid Amerika ditanya apakah mereka yakin telah mahir math & science, prosentase yang menjawab 'Ya' malah Amerika yang paling tinggi. Ckckck jangan dicontoh ya teman-teman.

Ada 2 orang yang sepertinya menjadi spotlight dalam film ini; Geoffrey Canada serta Michelle Rhee. Canada adalah seorang guru yang turut merintis sebuah charter school dan aware bahwa guru-guru lah yang sebenarnya berperan besar terhadap kualitas sekolah itu sendiri. Michelle Rhee on the other hand, adalah yang membuat gw sangat amazed. Rhee itu menjawab sebagai *aduh apaan ya lupa* pokoknya orang yang bertanggung jawab mengevaluasi sekolah-sekolah di negara bagian Washington DC. DC sendiri melalui statistik memiliki tingkat pendidikan yang paling buruk di Amerika sana. Rhee sadar bahwa dengan cara-caranya yang terkesan out of tradition dan berani mengambil keputusan menutup sekolah yang tidak memberikan efek yang signifikan dan memberhentikan kepala sekolah yang ia rasa bekerja buruk, itu akan membuatnya menjadi the most unlikeable person in DC. Tapi dia orangnya memang kayak gitu. She's not the kinda person who likes to kiss-ass. Sebuah keputusan yang sangat sangat berani dan beresiko, tapi let's face it sebuah solusi yang luar biasa untuk mengurangi yang namanya guru gabut (gaji buta).

Nah, Rhee sendiri memiliki banyak barriers dalam usahanya memperbaiki sistem pendidikan di DC, yang juga menjadi masalah utama yang pengen diangkat film ini. Pertama, pemecatan-pemecatan guru menjadi tidak berguna karena adanya tenure, keadan dimana mereka tidak akan pernah bisa dipecat. Sebuah sistem yang sebenarnya sangat merugikan murid. Lalu, saking banyaknya lembaga-lembaga yang dibuat oleh pemerintah dan dimaksudkan untuk membantu kerja sistem pendidikan disana malah menjadi sebuah penghalang yang rumit dalam hal birokrasi. Kekontradiksi ini lah yang akhirnya menjadi masalah. Dari kontradiksi ini, muncullah dilema. Sebenarnya siapa sih yang salah? Apakah karena lingkungan neighborhood yang membuat anak-anak malas sekolah, atas guru-guru yang gabut? Atau malah pemerintah?

Hmm di salah satu paragraf diatas gw menyebut kata-kata' charter school'. Charter school, sebagaimana dijelaskan di film ini, adalah seperti semacam public school yang khusus dibangun dan dibayai oleh publik serta memiliki aturan dan regulasi yang umumnya berbeda dengan public school lain. Kurikulum dalam charter school ini kebanyakan lebih baik dan lebih eksklusif, makanya banyak banget keluarga yang anaknya pengen dimasukkin kesitu. Karena saking eksklusifnya dan sangat terbatasnya tempat (biasanya berjumlah belasan sampai puluhan), dari ratusan pendaftar, semuanya diundi dengan menggunakan undian! Gila gak? Bisa lewat bola yang diputer-puter gitu lah, kertas undian, atau malah random dari komputer. Gak peduli sebego apapun anaknya itu, semua bergantung sama satu hal: luck. Dalam film ini terdapat profil beberapa anak yang dijadikan bahan cerita utama dimana semuanya ikutan dalam pengundian charter school pilihan masing-masing. Sebenarnya cara ini bener gak sih? Hmm debatable sih, soalnya disatu sisi, "adil", tapi di satu sisi kayaknya gak etis aja karena menggantungkan semua lewat fate.

Menonton film ini benar-benar membuka mata gw serta menambah wawasan. Walaupun masih banyak sih yang lebih parah, masih banyak yang gak bisa sekolah, bahkan untuk makan aja susah. Tapi melihat perjuangan anak-anak disini, bagaimana mereka pengen banget dapet sekolah bagus, bagaimana orangtua mereka bekerja banting tulang biar bisa nyekolahin anaknya di tempat yang bagus, gw jadi malu sendiri. Dulu kayaknya malesss banget buat belajar pas SMA. Terus ujung-ujungnya pasti nyalahin guru-guru atau sekolahnya. Sejujurnya harus diakui sebagian memang karena institusi yang katanya favorit tersebut menurut gw masih banyak cela-nya, tapi kan at least gw udah dapet prestige. Bukan cuman prestige, tapi ketemu sama temen-temen yang memang pinter-pinter banget, yang membuat gw kecipratan pinternya. Jadi inget pepatah favorit guru gw dulu, kalo kita temenan sama tukang parfum, pasti kecipratan wanginya. Yah pada intinya sih, dan juga dikemas dengan baik oleh film ini, akhirnya nyalahin orang lain itu gampang, tapi gak ada gunanya. Yang penting dari kita sendiri dulu, ye gak? Tapi lagi-lagi; it's easier said (or written) than done.

Waiting For Superman itu menurut gw memiliki semua substance yang harus dimiliki film dokumenter yang baik. Isu yang masih menjadi polemik saat ini, dibawakan secara poignant, hati-hati tanpa terlalu cenderung menyalahkan satu pihak, jujur, tidak klise serta komunikatif. Selain Bowling For Columbine dan The Cove, inilah satu dokumenter yang berhasil membuka mata gw (memang gw nya jarang nntn dokumenter sih) terutama untuk terus belajar. Film ini memang, secara kasarnya, tidak terlalu memberikan sebuah solusi yang benar2 efektif (WFS memaparkan solusi tentang bagaimana memperbaiki sistem pendidikan, tapi bukan solusi bagaimana melaksanakannya) tapi diujung film, WFS memberikan sedikit sparks of hope. Semua hal itu memang terlihat impossible untuk diperbaiki, tapi kalau ada kemauan, kalau KITA ada kemauan, semua hal itu pasti bisa dilakukan. Pesan gw untuk lo-lo yang baca review ini, terutama yang bersekolah di almamater gw; jangan pernah remehin yang namanya sekolah. Bayangkan lo udah diterima di sekolah bagus2, banyak yang gak keterima disitu, lebih banyak lagi yang gak bisa sekolah. The least you can do; study your ass off and make yourself useful. Believe me, you won't regret it

(****)

Waiting For 'Superman' (2010) | Documentary | Rated: PG | Written by: Davis Guggenheim, Billy Kimball | Directed by: Davis Guggenheim | Electric Kinney Films, Walden Media

No comments:

Post a Comment