Friday, April 3, 2009

"Gitar ini kayak nafas gw ..... gw juga butuh nafas, Van!"

Gw mungkin boleh berbangga hati, gw adalah satu dari sekian banyak penduduk Indonesia yang 'menangkap' film ini di bioskop. Film ini pun hanya bertahan beberapa hari di 21 Pondok Indah (seingat gw). Padahal, menurut gw, in my humble opinion, perkiraan gw (hahaha apa coba banyak banget), film ini (harusnya) menjadi salah satu film terbaik yang pernah dibuat oleh Indonesia.

Apakah gw salah? Mungkin. Pendapat gw mungkin beda2 sama pendapat2 para kri tikus2 (itu emang gw pisahin katanya hahaha) profesional. Memang jika dibandingkan dengan film2 macam Berbagi Suami, Nagabonar (Jadi) 2, Denias: Senandung Di Atas Awan (maaf ya kalo yg ini saya blom nonton), film2 nya Garin Nugroho, film ini jauh dibawah kualitasnya. Tapi apa yang membuat saya berani memberikan statement diatas?

Dunia Mereka (2007) adalah film dengan cerita adaptasi novel Monty Tiwa (yang juga menulis skenario nya) tentang Filly (Adinia Wirasti), penyuka musik blues, yang sudah menjadi piatu, karena waktu ia berumur 10 tahun, ibu nya yang pramugari tewas dalam kecelakaan pesawat. Filly menganggap bahwa kematian ibu nya adalah kesalahannya, karena Filly sempat ngambek agar ibu nya pulang hari itu juga. Karena itulah Filly menjadi sosok yang pendiam.

Cerita pun berlanjut dengan bagaimana Filly diterima oleh band yang diketuai oleh Ivan (Christian Sugiono), band yang beraliran pop blues. Filly diterima band itu pun karena Filly memberi influence blues yang sangat kental pada musiknya. Seiring berjalannya waktu, Ivan, Filly dan 2 anggota lainnya, Ari & Barbuk (sayangnya di credit title ga ada nama tokoh2nya jadi gw ga tau namanya), menjadi akrab. Terutama Ivan & Filly. Hal ini gak disukai sama pacar Filly, Rio (Oka Antara) yang membuat Rio membenci sosok Ivan, dan juga sebaliknya.

Masalah pun datang saat band yang diberi nama Ivan & Capung Biru itu akhirnya diterima oleh produser musik dan ditawari rekaman. But no victory without sacrifice. Band mereka bisa diterima rekaman dengan satu syarat: mengurangi sense of blues sampe pol. Kenapa? Apparently, blues don't sell (check out John Mayer nowadays, idiot!). Padahal Ivan bernah berjanji kepada Filly, selama Filly ada di bandnya, ia bebas nge blues semaunya.

Kembali ke statement atas. Film ini (harusnya) menjadi salah satu film terbaik yang pernah dibuat oleh Indonesia. Gw sangat tersihir dengan film ini. Walaupun cerita nya tidak terlalu orisinil, menurut gw cara penyampaian cerita nya sangat baik. Kudos buat Lasja F Susatyo, sang sutradara. Dialog yang dipakai juga bener2 nyata. Entah kenapa gw suka eneg denger dialog2 cheesy dan terlalu nyeni yang dipakai di film2 Indonesia, kaku banget. Walaupun penyakit itu ada di beberapa adegan film ini, tapi sebagian besar dialog nya mengalir. Lucu dan menyentuh.

Sinematografi nya adalah alasan no.1 gw suka film ini. Shot-shot yang diambil sangat artistik. Keren banget ngeliat pergerakan kamera yang mulus dan menangkap gambar2 indah. Adegan2 seperti saat ayah Filly ingin merebut dan merusak gitarnya, dan saat mereka ngumpul2, awesome!

Tapi apa bener film ini sesempurna dan se flawless itu? Tidak. Tata musiknya, walaupun pemilihannya sudah bagus dan cukup menarik, tapi di beberapa adegan (cukup banyak sih) lebih kenceng dibanding dialog nya, jadi ga kedengeran. Padahal ada yang penting. Dan score nya juga itu2 aja. Trus juga tata cahaya. Banyak dari adegan di film ini yang gelap banget. Bener2 mubazir deh tuh sinematografi nya. Promosi nya apalagi. Film ini bener2 jadi ga ada yang tau dikarenakan promosi nya yang kurang. Bahkan, VCD yang gw beli pun harus digabung dengan 2 film lain, jadi 3 in 1 gitu.

Apakah mereka kekurangan dana? Sepertinya iya (sotoy). Padahal jika digarap dengan sangat maksimal dan sedetil mungkin, mungkin memakai dana film2 horor kacangan dan komedi seks kampung itu, film ini seperti yang saya bilang, bisa menjadi salah satu film terbaik yang pernah dibuat Indonesia.

Hal lain yang mungkin menarik perhatian adalah ternyata Adinia Wirasti (Karmen di AADC) jago banget main gitarnya! Akting nya juga oke sih, tapi ga terlalu wah. Christian Sugiono bermain mood2an disini. Kadang ancur (kebanyakan sih) tapi kadang lumayan. Pronouncation nya juga kurang 'Indonesia', lidah nya sempet rada ke bule2an gitu. Yang jadi favorit gw tuh Barbuk, sang drummer yang memainkan perannya yang slenge'an dan tukang mabok dengan baik dan cukup alami. Apa memang asli nya gitu ya? Hahaha

In conclusion: film yang hampir sempurna, nanggung. Kalo aja di danai lebih dan diperhatiin lagi masalah teknisnya, dan juga promosi yang lancar, gw yakin film ini bakal memorable sepanjang jaman. Cerita bagus, sinematografi keren, musik oke (bukan tata musiknya, tapi pemilihan musiknya), mungkin bisa diganti sih peran nya C Sugiono nya, biar kerasa lebih idup jiwa anak band nya. Tapi film ini cukup enjoyable dan bisa jadi alternatif film2 Indonesia. Dibanding film2 band seperti Garasi dan D'Bijis sampe Realita Cinta & Rock N Roll pun gw masih suka Dunia Mereka.

Rating: 6.5/10 (padahal bisa 8/10)

6 comments:

  1. Menurut gue bagusan bukunya Riz daripada filmnya. Sayang bukunya mandek sampe nomor dua doang

    ReplyDelete
    Replies
    1. asik tuh sist, punya buku dunia mereka jilid 2 nya.. wah ane lg cari2 tuh.. belum ketemu sist. ending terakhir sih udah bikin aer maa ane.. hhe

      Delete
  2. iya nis, katanya buku nya bagus, tapi sayang gw blom baca hahaha lebih baik supaya gw tetep suka sama film ini, gw gausah baca.... hahahha

    ReplyDelete