Monday, February 4, 2013

Review: The ABCs of Death (2012)

Plot: Sebuah omnibus yang menghadirkan dua puluh enam cerita horror pendek dari sutradara-sutradara mancanegara yang masing-masing mewakili tiap huruf dalam alfabet.

Review: Sebelum anda menonton film ini, ada baiknya saya memperingatkan bahwa film ini akan berisi beberapa adegan-adegan absurd, gory, nudity dan NSFW (not safe for work) material. Film ini mungkin akan membuat anda mengernyitkan dahi, menahan nafas, tidak nyaman dan....mengantuk. Yep you read it right. Seperti yang pernah saya bilang pada review V/H/S, omnibus (terutama horror) sepertinya telah mencuat menjadi sebuah gimmick yang akan terus dieksploitasi. Kalau dalam V/H/S menggabungkan 5 cerita horror pendek sudah saya bilang sebagai hal yang cukup ambisius, The ABCs of Death took it to the whole new level. Dua puluh enam film pendek iklan akan disajikan sesuai dengan jumlah alfabet, dan masing-masing mewakili tiap huruf. Secara konsep mungkin ABCs adalah sebuah ide yang lumayan bagus kalau memang dieksekusi secara serius. Menilai film omnibus (terlebih lagi dengan 26 cerita pendek iklan) akan sulit, karena seringnya ketidakseimbangan antara satu segmen dan segmen lainnya. Ketidakseimbangan itu terlihat jelas dalam film ini. Beberapa segmen saya akui memiliki ide cerita yang bagus, bahkan memang memiliki hasil akhir yang sepadan juga, sedangkan selebihnya seperti film pendek iklan setengah jadi, amatiran dan beberapa bisa saya anggap pure trash. Saya tidak memiliki niat untuk menjabarkan satu persatu segmen (karena akan membuang waktu), jadi saya hanya akan mereview beberapa yang saya anggap menarik saja.

ABCs sebenarnya dibuka dengan satu segmen yang memiliki twist yang bagus, untuk menyebut judulnya saja jelas akan spoiler. Tetapi seiring filmnya berjalan, kualitasnya malah naik-turun, dan lebih sering turun sayangnya. Segmen yang pertama saya suka dan salah satu yang terbaik IMO adalah D is for Dogfight. Eksekusi bagus, efek slowmotion nya pas, sadisnya dapet dan surprisingly very emotional di ending. Beberapa saat kemudian kita bertemu dengan first WTF segmen; F is for Fart. Tak perlu saya jelaskan lah, segmen dari sineas Jepang ini benar-benar out of this world. Sangat absurd memang, tetapi setidaknya ide nyeleneh ini memiliki hasil akhir yang lumayan. Kemudian hadir satu film animasi dalam K is for Klutz yang walaupun agak gross, tapi cukup, err...menghibur? Dan akhirnya muncul juga satu segmen buatan sineas Indonesia, Timo Tjahjanto, L is for Libido. Ide nya memang cukup 'bahaya' untuk ukuran film produksi Indonesia; lomba 'fapping' maut dengan muse yang juga gak kalah disturbing. Gila dan sakit. Tapi kalau boleh jujur, segmen ini malah menjadi salah satu segmen yang paling well-polished. Nah, kalau ingin sedikit 'main-main' harusnya belajar dari sineas Thailand lewat segmen N for Nuptials ini. Idenya sederhana, singkat tapi nancep. Dan satu-satunya segmen dengan sentuhan komedi yang pas timing-nya (yang lain unintentional comedy kayaknya :p). Lalu ada T is for Toilet yang menggunakan efek clay motion animation. Toilet adalah pemenang dari 26 segmen yang ternyata dikompetisikan ini. Again, idenya gila tapi sederhana sebenernya. Sama seperti Nuptials, juga ada sentuhan komedi disini. Lalu ada U is for Unearthed yang memakai teknik first person dan kita melihat seorang vampir(?) yang tengah dihabisi oleh beberapa or (or at least they were trying to). Serta yang terakhir, X is for XXL yang juga begitu disturbing tetapi hadir sangat poignant dan menjadi kritik sosial yang nyata.

Omnibus memang menjadi ide yang bagus unuk membuat menonton menikmati berbagai cerita yang berbeda. Dan alangkah bagusnya kalau setiap segmen memiliki tingkat kualitas yang sama. Sayangnya hal tersebut jarang terjadi, apalagi dengan 26 segmen seperti dalam film ini. Dari 26 segmen, bisa dihitung bahwa saya hanya suka 8, ya hanya 8, dari semuanya. Selebihnya ya seperti yang saya bilang. Kalau gak biasa aja dan tidak meninggalkan impression apa-apa terhadap saya, ya pasti jelek banget. Ada beberapa segmen yang gak jelek-jelek banget, tapi ya juga gak spesial. Ya itu yang membuat saya agak menyayangkan film ini. Segmen-segmen yang dibuat dengan semangat dan proses yang serius seperti Dogfight, Libido atau XXL harus disandingkan dengan segmen-segmen asal jadi seperti B is for Bigfoot, G is for Gravity M is for Miscarriage, I is for Ingrown, O is for Orgasm, W is for WTF (literally) atau Z is for Zetsumetsu. Entah lah apa yang ada di pikiran para sineas. Apa mereka memang ingin 'having fun' saja atau itu style mereka, atau memang salah produksi, atau memang mereka merasa toh hanya beberapa menit, gak usah serius-serius amat bikinnya. Atau memang saya aja yang gak menangkap maksud mereka, atau saya yang udah kebal sama film-film sakit. Ya kalau menurut saya sih agak kurang fair aja sama sineas-sineas lain yang telah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat film, or at least dapet recognition dari dunia film internasional. 

Overview: The ABCs of Death memang memiliki konsep yang menarik, film horror dengan belasan ide cerita dengan topik yang beragam pula dihadirkan dari kacamata yang berbeda. Somehow, ABCs juga terlihat seperti sebuah hiburan yang menjanjikan (bagi anda-anda yang menikmati sick or disturbing things). Sayangnya, dari banyaknya segmen dalam ABCs, yang menurut saya bagus hanya sepertiganya saja. I would gladly rate those 8 segments B and up. But for others, D is just too generous. Dan seperti sebuah silver lining, saya bangga bahwa salah satu dari segmen yang saya suka adalah karya anak negri. Bukan karena saya bias, tetapi memang lumayan well-made. Dan walaupun memang ada beberapa gems dalam film ini dan memang tidak semuanya jelek, unfortunately hal tersebut tak bisa menyelamatkan this big pile of twisted mess. Disappointing is an understatement.

The ABCs of Death (2012) | United States | Horror | Directed by: Marcel Sarmiento, Noboru Iguchi, Anders Morgenthaler, Timo Tjahjanto, Banjong Pisanthanakun, Lee Hardcastle, Ben Wheatley, Xavier Gens, lol you think I will name all the directors?!

15 comments:

  1. Nggak paham sama si Ti West. Sutradara paling punya nama diantara yang lain, eeeh filemnya begitu doang.
    Segmen I sayang banget tuh, padahal kalau dibuat versi panjangnya pasti bakalan oke kayak Martyrs.
    Kalo yang Z sih, yaah begitulah Nishimura yang nggak pernah waras, masih sempet marodiin ending Dr. Strangelove pula :D
    Tapi IMO segmen Orgasm itu salah satu yang paling artistik sih,apalagi temanya juga pake metafora (orgasm = little death di Prancis)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya segmen Miscarriage itu bener2 wasted. Setuju soal Ingrown, kalau dipanjangin mungkin bakal lebih jelas. Kurang suka sih sama Orgasm, karena ngerasa ya itu tadi kayak iklan doang :p lumayan sih efeknya..

      Delete
  2. Itu sebabnya gw lebih suka menyebut the ABCs sebagai showcase alih-alih omnibus karena pengaturan 26 film pendeknya ga ter-develop dengan baik dari awal hingga akhir. Eh gw baru ngeh kalo huruf A itu ada twistnya, haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya coba dijadiin kayak tv series gitu ke bbrp episode. Gak usah panjang2 tapi gak seiprit gini juga, pasti jd lebih bagus haha

      Delete
    2. Wah iya bener juga, dijadiin tv series bakal kayak twilight zone yang mindfuck

      Delete
  3. Saya suka bgt horror..tapi kayaknya yang ini saya pass deh. Terlalu aneh kalo dilihat dr reviewnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trust me, Miss, I think it's a waste of time :p haha saya aja nonton karena kemakan hype

      Delete
  4. Yang M mending buang aja tuh. (apa saya aja yang gak ngerti ceritanya?). Gak jelas banget.
    Paling suka yg L. Hebat sutradara indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang gak jelas kok, bener2 amatiran :p Haha emang segmen L adalah salah satu yang paling niat.

      Delete
  5. Justru saya rasa paling baik ceritanya itu abjad X .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, itu juga salah satu favorit saya :)

      Delete
  6. CERITAIN kali, saya blm nonton filmnya

    ReplyDelete
  7. Sayangnya tiap segmen di film horor omnibus ini terlalu pendek, berkisar 5-7 menit saja. Kurang greget bagi pendalaman karakternya. Lebih enak sih kalo bikin film omnibus cuma ada 3-4 segmen saja, seperti 4bia, Hi5teria, Fisfic 6 vol 1.

    ReplyDelete
  8. Menurut aku sih segmen fart bener2 WTFF??? jepang emang suka aneh dan absurd kalo bikin cerita. So freaky. Dan sampe sekarang masih ga ngeuh sama maksud dari segmen fart. Totally sampah abisss segmen itu XD

    ReplyDelete