Saturday, January 26, 2013

Review: Django Unchained (2012)

Plot: Seorang budak bernama Django (Jamie Foxx) bekerja sama dengan seorang bounty hunter, Dr King Schultz (Christoph Waltz) berusaha untuk menyelamatkan istrinya dari tangan seorang pemilik pekerbunan yang kejam, Calvin Candie (Leonardo DiCaprio).

Review: Bagi saya, Quentin Tarantino adalah salah satu dari sedikit sutradara mainstream yang memiliki style yang nyeleneh dan orisinil. Memang ia sering mencomot-comot (terinspirasi, lebih tepatnya) ide dari banyak sumber, but somehow he managed to turn them into his own style. Setelah sukses membantai para Nazi (dan menulis ulang sejarah sesukanya) di Inglorious Basterds (2009), Tarantino kini membawa kita ke Amerika zaman perbudakan kulit hitam lewat Django Unchained. Di luar tema western dan slavery yang dipakai sebagai template oleh Tarantino dalam Django, sebenarnya film ini memiliki premis yang cukup sederhana. Tentang seorang suami yang ingin menyelamatkan sang istri, with a bit of Tarantino's western-esque all over it. Di-set beberapa tahun sebelum Perang Saudara pecah, seorang budak bernama Django Freeman (entah nama Freeman disengaja atau tidak—diperankan oleh Jamie Foxx), dibebaskan oleh Dr. King Schultz (Christoph Waltz) yang ternyata juga berprofesi sebagai seorang bounty hunter yang hendak meminta informasi dari Django tentang orang yang diburunya. Pekerjaan Schultz yang dideskripsikan sebagai 'killing white folks and get paid for it' menarik perhatian Django dan soon after, Django menjadi sidekick Schultz. Schultz pun bersedia untuk membantu Django mencari istrinya, Broomhilda (Kerry Washington) yang ternyata saat itu berada di bawah naungan Calvin Candie (Leonardo DiCaprio), pemilik perkebunan kapas yang kejam.

Django Unchained filled with classic elements of Tarantino films. Seperti film-filmnya yang lalu-lalu, Tarantino tidak pernah malu dengan kebrutalan dan gore. Bisa ditebak, Django akan menghadirkan muncratan-muncratan darah dimana-mana. Tak hanya dari baku tembak saja, tetapi bahkan lewat raw wrestling (or as this film put it, 'mandingo'), serangan cambuk atau anjing-anjing ganas yang siap melahap para budak yang berbuat kesalahan atau mencoba kabur. Django bagi saya cukup memberikan action feast yang cukup seru. Well, at the most part. While Django is still a fun ride, tapi dalam film ini rasanya tidak ada adegan monumental khas film-film Tarantino. Ya, mungkin openingnya cukup menarik, lalu adegan raid oleh kawanan Big Daddy cukup memberikan comedic moments, atau the whole shootouts in Candyland yang memang brutal (walaupun kurang lama dan kelewat dramatic). Tetapi adegan-adegan film ini bagi saya masih kurang menegangkan dibandingkan, let's say, adegan interogasi awal di film Inglorious Basterds, atau ketika The Bride vs. Crazy 88 di film Kill Bill vol. 1. Mungkin memang saya yang tidak begitu suka dan familiar dengan film-film bertema western, jadi saya merasa kurang connect dengan so-called western yang ingin ditunjukkan oleh Tarantino disini. Beruntung masih ada beberapa dialog witty yang menjadi ciri khasnya. 'My name is Django. The D is silent', 'I count six shots, nigga | I count two guns, nigga', and so on. Tak bisa saya pungkiri memang Tarantino memiliki sense of humor yang baik. Even though his cameo towards the ending is kinda dull.

Satu lagi yang bagi saya terasa kurang dalam film, karakter utamanya kurang memorable. Oke lah Django itu 'kick-ass' tapi coba lihat Beatrix aka The Bride di Kill Bill atau Colonel Hans Landa di Inglorious Basterds (no, Brad Pitt's character is not the lead, IMO), keduanya memiliki kharisma tersendiri yang mampu membuat saya ingin melihat sepak terjang mereka terus di layar. Jamie Foxx mungkin sudah sebisanya berakting cool dan calm sebagai Django, tapi masih belum membuat saya mengelu-elukannya sebagai pahlawan. Cristoph Waltz, on the other hand, was superb. Perannya sebagai seorang dokter gigi slash bounty hunter dimainkannya dengan jenaka. Mungkin memang agak sedikit mirip dengan karakter Hans Landa, tetapi Waltz sebagai King Schultz bisa memberikan aura yang berbeda dan lebih komikal disini. Tarantino sepertinya beruntung bisa menemukan dan merekrut Waltz ke dalam film-filmnya. Another standout goes to Kerry Washington yang memerankan Broomhilda. Bagi saya penampilan emosional dan sendunya begitu refreshing di tengah testosterone karakter-karakter lainnya. Begitu pula dengan Samuel L Jackson sebagai pelayan kulit hitam yang sepertinya mulai bertingkah layaknya sang majikan. But sorry to say, I'm not joining Leo's bandwagon, cause everytime his character said a word, I cringed, lol. Another great thing from the movie, dan walaupun banyak yang menilainya kurang pas penempatannya (in which I partly agree), musik dalam film ini menurut saya menjadi hiburan tersendiri. Banyak tune-tune yang enak didengar. Dan bagaimana Freedom yang dibawakan oleh Anthony Hamilton dan Elayna Boynton tidak mendapat nominasi Best Song di Oscar adalah sebuah misteri.  

Overview: Bukan Quentin Tarantino namanya kalau tidak memberikan his own version of history. Masih bermain-main dengan tema revenge, Django Unchained sebenarnya sebuah film  hiburan yang cukup seru untuk disantap. Banyak adegan action yang tak ragu menampilkan pertumpahan darah serta dialog jenaka khas Tarantino. Walaupun ada beberapa yang bagi saya kurang ngena, tapi masih bisa lah diterima. Sayangnya, in a Tarantino's standard, Django Unchained bagi saya tidak begitu berhasil menyamai kualitas beberapa film-film terdahulunya. Tapi saya tidak bilang Django itu film buruk sih. Another way to put it: he's done better.

Django Unchained (2012) | United States | Drama, Western | Rated R for strong graphic violence throughout, a vicious fight, language and some nudity | Cast: Jamie Foxx, Christoph Waltz, Leonardo DiCaprio, Kerry Washington, Samuel L. Jackson, Walton Goggins, Dennis Christopher, James Remar | Written and directed by: Quentin Tarantino

8 comments:

  1. Agree! Ada banyak hal yang menjadikan Django Unchained tidak lebih menonjol dari film2 QT lainnya. DiCaprio? Haha, baik Waltz dan DiCaprio memang lebih attention-stealing daripada Foxx (dan L. Jackson, mungkin), but still, I root for DiCaprio. Compared to Waltz, I think DiCaprio is fresher. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gw dari dulu entah kenapa sentimen sama DiCaprio hahaha paling suka sama dia di Shutter Island, selain itu antara blm ntn atau gak begitu suka :p

      Delete
  2. Replies
    1. Tarantino will always be Tarantino :)

      Delete
  3. Inni nih yang gue tunggu dari tahun lalu!! Nunggu keluar yang ori version aah.. ~

    ReplyDelete
  4. thanks reviewnya. sbg Tarantino fan, aku agak kecewa dgn film ini. mungkin saja terlalu berekspektasi. menurutku ada yg hilang dari gaya khas tarantino: 1) tdk ada karakter yg iconic, sprti duet vincent vega-jules di pulpfiction. 2)scene yg memorable kayak gangnya joe cabot pas jalan di tempat parkir restoran. 3)angle khas tarantino.
    tapi yg aku suka cameonya tarantino. pas bgt jd koboi bahlul. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2, terima kasih sudah mampir dan baca jg :) iya memang saya rasa karakter django (atau yg lain) kurang iconic. dan nambahin ttg non linear, iya saya baru belakangan sadar, yg ini alurnya linear haha apa mungkin juga terpengaruh sama beda editor, setau saya editor setianya si Tarantino meninggal tahun 2010 kemarin, atau memang script yang dibuat Tarantino udah begitu sih asalnya

      Delete
  5. oh satu lagi, alur non linear tampaknya sudah ditinggalkan tarantino kayaknya.

    ReplyDelete